Hakikat syahadat dan keimanan seseorang

Iman Tholhah Nuhin 13-Okt-2020
المواقف الصعبة في الحياة
Hakikat syahadat dan keimanan seseorang © Leonid Yastremskiy | Dreamstime.com

Seorang mukmin yang telah berikrar dengan syahadat ini, ia harus mentaati apa-apa yang telah digariskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya dengan kesempurnaan cinta dan ketundukan.

Rida terhadap ketentuan ilahiah

Selanjutnya ia akan menerima dan rida terhadap ketentuan-ketentuan ilahiah tanpa berfikir panjang dan tawar-menawar. Inilah rahasia firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW berikut ini:

“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

(Surah al-Ahzab, 33:36)

Kerelaan ini muncul dan lahir dari proses panjang ketersibghoan akal yang berfungsi untuk memilah dan memilih, hati yang berfungsi untuk memutuskan dan jasad sebagai muara lahirnya perbuatan. Ketika tiga unsur ini telah terwarnai dengan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam maka ia akan melahirkan keyakinan, pemikiran dan amal yang tidak bertentangan dengan Islam.

Artinya, niat yang ada dalam jiwa ini adalah ketulusan yang tidak terwarnai dengan noda-noda riya’, sum’ah (agar didengar) dan syuhrah (ketenaran). Manhaj (aturan) yang diproduk pemikiran ini mustahil bertentangan dengan yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Makna syahadat dan revolusi diri

Dan begitu pula gerakan-gerakan, tindakan-tindakan dan seluruh aktivitas seorang mukmin benar-benar mengarah kepada titik yang dikehendaki syahadat itu sendiri. Inilah “revolusi diri” yang lahir dari pemahaman makna syahadat secara benar dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Perubahan totalitas itulah yang diinginkan, ketika mukmin menyadari dan memahami arti syahadat yang sebenarnya. Ia juga sadar bahwa bersyahadat adalah awal transaksi bisnis ukhrowi antara dirinya dengan Allah SWT. Ia telah menjual harta dan jiwa raga kepada Allah. Inilah harga mati syahadat dan iman yang telah dilakukan oleh mukmin. Tanpa ada penawaran dan penolokan dalam transaksi ini.

Perhatikan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

(Surah at-Taubah, 9:111)

Begitu juga hidup di bawah naungan panji-panji tauhid ini akan melahirkan wala (loyalitas) terhadap Allah SWT semata. Dan pada saat yang sama ia harus bebas dari al-Alihah (Tuhan-tuhan), Thogut-thogut (Setan, dukun-dukun dan sesembahan selain Allah), Arbab (Tokoh, cendekiawan, ilmuan dan agamawan) dan sistem-sistem yang dimilikinya.