Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

‘Hanafiyyah’ pertama di Mesir

Penciptaan 29 Jan 2021
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
'Hanafiyyah' pertama di Mesir
'Hanafiyyah' pertama di Mesir (foto: Masjid Muhammad Ali Pasha) © Anton Aleksenko | Dreamstime.com

Rupanya setiap hal yang baru itu mestilah mendapat uji publik atas kepatutan dan kelayakan penggunaannya. Tak bisa dengan mudah begitu saja diterima diakui oleh mereka yang berbeda cara pandang dan tingkat pengetahuannya.

Salah satunya yang ada dalam kisah berikut ini.

Sejarah pengadaan Hanafiyyah

Tertulis dalam Al-Azhar TV, pada tahun 1848. Diprakarsai oleh Muhammad Ali Pasha setelah membangun masjid yang kemudian namanya dijadikan sebagai nama mesjid tersebut yang terletak di Benteng Salahuddin (Benteng Kairo) di Kairo, Mesir.

Dilakukan pemasangan instalasi air yang kemudian akan digunakan untuk berwudu dan kegiatan lainnya. Pipa pun mulai dipasang, juga dengan keran (kita menyebutnya sekarang).

Timbul masalah setelah itu, mereka belum menemukan nama untuk menyebut penemuan aneh ini, yang dianggap orang sebagai mukjizat keajaiban akhir zaman! Lalu mereka menyebutnya apa? Kebingungan itu terjadi karena metode yang berlaku di masa lalu untuk berwudu adalah menggunakan cangkir, gayung dan kendi!

Pada awalnya, beberapa orang keberatan dengan fakta penemuan alat yang sangat memudahkan dipakai untuk berwudu. Dan bahkan lebih parah lagi oleh sebagian kelompok penemuan baru ini dicap bidah dalam ibadah.

Ini karena mereka tidak pernah menemukan dalil yang sesuai. Bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta para pendahulu di negara-negara Muslim pernah menggunakan atau menyuruh menggunakan alat tersebut.

Perbedaan mensikapi persoalan baru pun terjadi

Pendapat ini didasarkan pada hadis yang populer melegitimasi sebuah festivalisasi kebenaran: “Dan semua bidahnya adalah kesesatan dan setiap kesesatan di Neraka.”

Kegiatan berwudu adalah bagian dari ibadah, maka menambah atau mengada-adakan dalam hal berwudu termasuk bidah yang menyesatkan mengantarkan pelakunya ke neraka.

Namun para ulama bermazhab Hanafi berpikir berpandangan lain. Mereka membolehkan penggunaan alat penemuan baru (keran) tersebut karena memudahkan lagi meringankan banyak orang ketika berwudu.

Bahkan, mereka menghimbau perlunya menggeneralisasi untuk menggunakan alat penemuan baru itu bagi umat muslim seluruhnya. Dan rupanya dari sinilah orang-orang menamakannya dengan sebutan ‘Hanafiyyah’. Yakni setelah para ulama mazhab Hanafi memfatwakan boleh hukumnya menggunakan alat penemuan baru (keran) itu.

Dan jikalau kita meninjau langsung ke mesjid-mesjid yang ada di Mesir sampai sekarang, mereka masih menyebut alat penemuan (keran) itu dengan sebutan ‘Hanafiyyah’ dalam bahasa Ammiyah. Kalau tak percaya, coba saja bertandang ke negara yang dijuluki Negeri Seribu Menara itu.

Begitulah, sesuatu yang baru biasanya tetap mendapat respon yang berbeda. Namun yakinlah jika dikomunikasikan dengan baik pasti akan mendapat pengakuan terbaik.