Harapan adalah energi kehidupan

Harapan adalah energi kehidupan © Leo Lintang | Dreamstime.com

Harapan adalah energi kehidupan. Hidup akan bersemangat bila ada harapan.

Lihatlah para petani, setiap pagi pergi membersihkan sawah tak menghiraukan lelah yang mendera seluruh tubuh dan panas yang menyengat membakar kulit. Itu ia lakukan karena ada harapan akan suatu hari akan panen dan memetik hasil jerih payahnya.

Lihatlah para pedagang, rela bangun sebelum subuh, menghalau kantuk dan menembus dinginnya malam. Itu ia lakukan karena ada harapan barang dagangannya terjual habis dan ia mendapatkan keuntungan yang wajar.

Lihatlah para pegawai, berbaris baris di pinggir jalan, padahal matahari baru saja memancarkan sinarnya, meninggalkan anak yang belum bangun dan sampai di rumah kembali setelah anak anak tertidur. Itu ia lakukan karena tuntutan sebagai konsekuensi dari gaji atau honor yang diterima setiap awal bulan.

Lihatlah para nelayan yang mengarungi laut sepanjang malam menyabung nyawa di tengah besarnya gelombang dan kerasnya angin laut. Apa yang membuatnya mampu bertahan? Satu kata harapan. Harapan akan mendapatkan ikan yang banyak dan dengannya kebutuhan hidup terpenuhi.

Para sahabat berhijrah meninggalkan keluarga, sanak saudara dan seluruh harta benda melewati gurun pasir yang panas dan menembus dinginnya malam. Semua derita ditanggung dengan satu harapan berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Di tengah panas yang menyengat dan laparnya perut para sahabat tetap semangat dalam memyelesaikan tugas berat yaitu menggali khandaq atau parit sebagai benteng agar musuh tidak masuk ke kota Madinah.

Apa rahasianya? Tak lain adalah harapan. Bahwa mereka yang sedang diserang dan diperangi oleh pasukan multi nasional ini kelak akan menaklukkan dua super power, Persia dan Romawi.

Ketika selesai perang Uhud di mana kaum Muslim dikalahkan pasukan kafir Quraisy para sahabat menagis dan sedih. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ada harapan besar yang mereka dapatkan, yaitu syahid atau ganjaran yang besar.

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah SWT apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Quran, surah An-Nisa, ayat 104)

Energi apa yang dimiliki para sahabat sehingga mereka berlelah-lelah bersama Rasulullah SAW, meninggalkan kesenangan yang fana, menanggalkan semua bentuk kebanggan duniawi dan berjuang bersama Baginda dengan berdarah-darah? Jawabannya adalah harapan.

Harapan bahwa Allah SWT akan rida dengan amal ibadah mereka. Harapan bahwa Allah akan menyelamatkan mereka dari neraka dan mememasukan mereka ke dalam sorga, tempat kenikmatan yang tiada taranya.

Taman yang indah, buah buahan yang beraneka, pelayan pelayan yang setia, sungai madu dan susu yang mengalir dan melepas dahaga dan bidadari yang mempesona. Harapan inilah menjadi energi yang menghilangkan segala lara, meringankan beban kehidupan dan derita serta kuat menanggung ujian dan fitna dunia.