Hari Raya Kurban perspektif historis

Persiapan Hari Raya Kurban di Palestin © Abed Rahim Khatib | Dreamstime.com

Hari Raya Idul Adha dikenal juga dengan Hari Raya Kurban atau Hari Raya Haji. Hal ini karena umat Muslim melaksanakan rukun Islam kelima bagi yang mampu untuk berangkat ke tanah suci, melaksanakan ibadah mulia dengan berwukuf di Arafah pada tanggal 10 Zulhijah.

Selain itu juga hari raya idul adha ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Bagi umat muslim yang belum mampu untuk berhaji maka Allah SWT memberikan cara lain untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan menyembelih hewan kurban.

Dilihat dari aspek historis, peristiwa Hari Raya Kurban ditandai dengan kisah Nabi Ibrahim a.s dengan anaknya Nabi Ismail a.s sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya dalam surah as-Saaffat, ayat 100-108, ketika di awal Nabi Ibrahim a.s berdoa kepada Allah SWT untuk karuniai seorang anak: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.

Maka kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (bernama Ismail). Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Dia (Nabi Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’

Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Nabi Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan kami abadikan  untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.”

Sudah sangat jelas dikisahkan dalam al-Quran bagaimana kesabaran Nabi Ibrahim a.s merelakan anaknya untuk dijadikan kurban. Tetapi Allah SWT menguji kesabaran sang anak, Nabi Ismail a.s ketika akan disembelih maka Allah gantikan dengan hewan besar yaitu kambing.

Maka dengan peristiwa tersebut, Allah SWT abadikan untuk diperintahkan untuk berkurban bagi umat selanjutnya. Ketika dewasa, Ismail a.s dan Nabi Ibrahim a.s diperintahkan oleh Allah untuk membangun Kakbah dan beribadah ke Baitullah tersebut. Maka dengan ini pula disebut ibadah Haji yang diikuti umat Muslim saat ini.

Anjuran untuk berkurban sudah ada sejak Nabi Ibrahim a.s kemudian disempurnakan dalam syariat Islam dengan adanya pilihan berkurban seperti kambing, sapi maupun unta tetapi dengan syarat ketentuan syariat Islam sebagai bentuk ketakwaan umat kepada-Nya. Selain itu guna membiasakan berbagi kepada yang lain. Semoga tinjauan secara historis ini membuat kita untuk berniat dan menjalankan perintah Allah SWT dengan berkurban pada Hari Raya Idul Adha.