Harta dan jabatan – mau digunakan untuk apa?

Masyarakat Komiruddin
Pilihan oleh Komiruddin
Harta dan jabatan - mau digunakan untuk apa?
Harta dan jabatan - mau digunakan untuk apa? © Anutr Yossundara | Dreamstime.com

Manusia secara fitrah mencintai dunia dengan berbagai bentuknya dari harta, kendaraan, pangkat, hewan ternak, sawah ladang, dll.

 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(Surah al-i Imran, 3 ayat 14)

Harta dan jabatan – mau digunakan untuk apa?

Tidak masalah menghabiskan waktu dan menguras tenaga untuk mencari harta sebanyak-banyaknya. Yang menjadi masalah adalah bila harta itu sudah terkumpul mau digunakan untuk apa.

Tidak masalah mengejar pangkat dan jabatan setinggi-tingginya. Yang jadi masalah adalah bila jabatan tersebut sudah didapat mau digunakan untuk apa.

Jangan sampai harta yang sudah dikumpulkan atau jabatan yang sudah diraih dengan susah payah hanya akan menghantarkan kita ke jurang neraka. Atau mempermudah kita berbuat maksiat dan mendorong kita berprilaku sombong dan lalai mengerjakan kewajiban.

Namun hendaknya harta dan jabatan tersebut dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Atau melipat gandakan amal kebaikan dan memeberikan manfaat untuk banyak manusia.

Lihatlah para sahabat yang faqir datang kepada Rasulullah SAW mengadukan bahwa mereka tidak dapat berbuat banyak dengan kemiskinan mereka. Mereka iri kepada orang-orang kaya yang dapat berbuat banyak kebaikan dengan hartanya. Iri karena mereka tidak dapat melakukan seperti apa yang orang kaya lakukan.

Jangan sampai menjadi beban berat di Akhirat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:

“Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal.

Mereka salat sebagaimana kami salat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian.

Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir salat sebanyak tiga puluh tiga kali.”

Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh empat kali. Aku pun kembali padanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai tiga puluh tiga kali.”

(Hadis riwayat Bukhari, 843)

Abu Shalih yang meriwayatkan hadis tersebut dari Abu Hurairah r.a berkata, sabda Rasulullah SAW yang maksudnya:

“Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin kembali menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, ‘Saudara-saudara kami yang punya harta (orang kaya) akhirnya mendengar apa yang kami lakukan. Lantas mereka pun melakukan semisal itu.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan, ‘Inilah karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang ia kehendaki’”.

(Hadis riwayat Muslim, 595)

Jadi, jangan sampai harta dan jabatan menjadi beban yang memberatkan kelak di Akhirat.  Sudah bersusah payah mencari dan mengejarnya di dunia, membuat susah pula di Akhirat.

“Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka),”

(Surah al-Ghasiyah, ayat 3-4)