Hassan bin Tsabit r.a, penyair kesukaan Rasulullah SAW

Kaligrafi sastra Arab © Jasmina | Dreamstime.com

Kedatangan al-Quran berhasil memungkasi sastra Arab yang telah didaya selama ratusan tahun. Seketika aktivitas penyair menjadi hening tak berdaya. Apalagi al-Quran datang dengan teguran yang membuat bergidik para penyair saat itu, sebagaimana tercantum dalam al-Quran, surah asy-Syu’ara, 224-227.

“Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah dan bahwa mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya? Kecuali para penyair yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut nama allah dan mendapatkan kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”

Sebuah studi kritis terhadap surah ini sampai kepada dua kesimpulan. Pertama, al-Quran mengecam para penyair yang berasyik masyuk dengan kata-kata dan tenggelam dalam lamunannya sendiri. Kedua, al-Quran memuji para penyair yang beriman dan beramal saleh. Penyair seperti ini menjadikan basis keimanan dan amal saleh sebagai sumber syairnya, sehigga puisi-puisinya penuh dengan kebaikan dan kebijaksanaan, bahkan menjadi jalan menuju kebenaran (Tuhan).

Salah satu penyair yang termasuk dalam kategori disukai al-Quran adalah Hassan bin Tsabit (lahir tahun 563 Masehi). Ia memiliki nama lengkap Hasan bin Thabit bin al-Mundhir al-Hazraji al-Anṣari. Nama panggilannya Abdul Walid. Penyair ini  berasal dari suku Khazraj kabilah Khataniah di Yasrib sekarang Madinah. Di kalangan para sahabat digelari Sang Penyair Rasul. Ayahnya adalah seorang tokoh berpengaruh dan dihormati oleh kabilahnya. Begitu juga dengan ibunya yang bernama Fari‘ah binti Khalid bin Qais Al-Khazraj.

Pada masa jahiliyah, puisi-puisinya sangatlah kering, kasar dan asing bahasanya, diksinya sangat rumit dan sulit untuk dipahami. Pada awal masuk Islam dan mempelajari al-Quran, puisinya menjadi halus lembut penyampaian kata-katanya, mudah dipahami begitu juga dengan struktur bahasa dan maknanya. Dengan demikian, Hasan bin Tsabit membela agama Islam dengan syair-syair dan Khubahnya (orasi). Ketika bersyair, ia memuji Rasululah SAW dan agamanya dengan begitu indah.

Salah satu syairnya yang terkenal adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya penghulu itu hanya dari suku fihr dan saudara-saudaranya. Yang telah menerangkan kepada manusia suatu agama agar diikutinya. Yaitu agama yang disenangi oleh setiap orang yang hatinya bertaqwa kepada tuhan dan mengikuti syariatnya. Kaum itu jika berperang akan membinasakan musuh-musuh atau berusaha memanfaatkan keikut sertaanya tanpa dijelaskan.”

Rasulullah SAW memberikan motivasi kepada Hassan r.a: “Berikan pujian kepada mereka, kelak malaikat Jibril bersamamu (Hassan bin Tsabit),” (Hadis riwayat Bukhari). Dalam hadis jalur Aisyah r.a, Rasul memotivasi Hasan: “Ruhul Qudus (Jibril) akan tetap mendukung dan melindungimu selama engkau memuji Allah dan Rasul-Nya.”

Hassan bin Tsabit r.a termasuk penyair yang dianugrahi umur panjang yang hidup di dua masa yakni masa Arab sebelum Islam dan masa datangnya Islam. Ia mencapai usia 120 tahun. Ia hidup selama 60 tahun pada masa jahili dan 60 tahun pada masa Islam. Pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, kondisi tubuhnya melemah drastis dan mengalami kebutaan. Beliau meninggal pada th 54/674 di Madinah pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sofyan.