Hidayah petunjuk dan kemampuan melaksana

Islam untuk Pemula Komiruddin
Pilihan oleh Komiruddin
Hidayah petunjuk dan kemampuan melaksana
Hidayah petunjuk dan kemampuan melaksana © Sunan Wongsa Nga | Dreamstime.com

Di antara hal-hal yang paling berharga dalam kehidupan ini adalah Hidayah atau ‘mendapatkan petunjuk’. Hidayah itu terbagi kepada dua bagian.

Pertama hidayatul irsyad dan kedua hidayatut taufiq.

Hidayah petunjuk dan kemampuan melaksana

Hidayatul irsyad juga disebut hidayah aammah adalah hidayah atau petunjuk yang diberikan kepada semua manusia, seperti pengetahuan dan bimbingan.

Sedang hidayatut taufiq atau juga disebut hidayah khaashshah, adalah kemampuan atau kelapangan seseorang untuk melaksanakan atau mempraktekkan pengetahuan atau bimbingan tersebut.

Banyak orang yang mengtahui kewajiban salat, puasa dan zakat. Tetapi sedikit dari mereka yang melaksanakan kewajiban tersebut. Mengetahui bahwa itu suatu kewajiban disebut hidayatul irsyad sementara kemampuan melaksanakan apa yang diketahui itu hidayatut taufiq.

Dua bentuk hidayah inilah yang selalu kita minta kepada Allah SWT dalam setiap rakaat salat kita dalam kalimat ‘Ihdinash shirathal mustaqiim’.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

(Quran surah al-Fatihah, 1:6-7)

Yaitu ‘Tunjukkan kami jalan yang lurus sekaligus berilah kekuatkan kepada kami agar dapat melaksanakannya’.

Sementara jalan yang lurus itu adalah jalan orang-orang yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah Taala. Jalannya para Nabi, para syuhada, siddiqin, dan orang-orang yang shaleh.

 “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

(Quran surah An-Nisaa’, 4:69)

Jalan dakwah dan cobaan dunia

Dapat kita bayangkan betapa beratnya jalan yang mereka tempuh. Jalan dakwah yang tak ditaburi semerbak harumnya bunga, tak selalu mulus. Bahkan, cenderung lebih banyak onak dan durinya, lebih banyak susah dan pengorbanannya.

Dari Mush’ab bin Sa’id, seorang tabi’in, dari ayahnya, ia berkata:

 “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

(Hadis riwayat Tirmidzi, 2398; Ibnu Majah, 4024; Ad-Darimi, 2783; Ahmad (1/185). Syaikh Al-Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadis ini shahih)

Jalan inilah yang kita minta di setiap salat kita. Lantas, jika di jalan ini kita diberi ujian berat seperti ujian para nabi atau para syuhada dan orang shaleh seharusnya kita tak perlu merasa bersedih.

Sebab itu bertanda Allah  Taala telah mengabulkan keinginan kita. Allah rida dengan apa yang kita lakukan. Jika memang demikian, maka tak ada yang harus disedihkan, apalagi disesalkan. Sebab taman-taman Surga kelak akan menjadi tempat menghuni yang abadi.

 “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan merekapun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”

(Quran surah Al-Bayyinah, 98:8)