Hidup ini lelah

Kehidupan Komiruddin 29-Agu-2020
dreamstime_s_23807529
Hidup ini lelah © Paop | Dreamstime.com

Anda mungkin pernah membaca potongan syair yang berbunyi:

Fanshab fa inna ladzidzal aisyi fin nashabi. ‘Maka berlelah lelahlah, sebab lezatnya hidup ada pada berlelah-lelah’.

Lelah. Satu kata mewakili seluruh aktivitas kehidupan dunia. Hidup ini sungguh lelah dan melelahkan. Karena memang demikian tabiat hidup. Miskin lelah, kaya juga lelah. Jadi tajir lelah, hidup melarat lelah. Jadi pejabat lelah, jadi rakyat juga lelah. Berfikir lelah, tidur lelah. Ada pekerjaan lelah, nganggur juga lelah.

Naik mobil lelah, naik motor lelah. Naik pesawat lelah, naik kereta api lelah. Di ruang ber-AC lelah, di ruang tanpa kipas angin lelah. Pejuang dunia lelah, pejuang akhirat juga lelah.

Begitulah tabiat hidup, tidak ada yang tidak lelah. Ia harus menempuh jalan yang sukar. “Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (Quran surah Al-Balad, ayat 18)

Harus melewati jalan yang mendaki, menapaki tingkat demi tingkat. “Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (Quran surah Al-Balad, ayat 19)

Karena hidup ini lelah dan melelahkan apapun kondisinya, maka kelak yang membedakannya adalah ‘harapan’. Dan harapan itu hanya dimiliki mereka yang beriman.

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah SWT apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surah an-Nisa, ayat 104)

Harapan, akan beristirahat melepas kepenatan dan kelelahan di taman yang penuh dengan bunga, dengan suasana yang sejuk dan penuh buah buahan serta ditemani bidadari cantik lagi suci.

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam Surga-surga itu, mereka mengatakan: Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Surah al-Baqarah, ayat 25)

Adapun selain Mukmin, harapan bagi mereka adalah fatamorgana, yang disangkah air oleh mereka yang kehausan di padang sahara. Di dunia mereka bekerja keras dan melelahkan. Di Akhirat mereka akan lebih lelah dan susah lagi. Sebab tempat mereka di Neraka.

“bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka).” (Surah al-‘A’la, ayat 2-3)