Posisi mumbang dan hidup kelapa yang tua

dreamstime_s_5018980
Posisi mumbang dan hidup kelapa yang tua © Ajay Bhaskar | Dreamstime.com

Hidup ini ibarat roda yang berputar, sekali di atas sekali di bawah. Ada masanya naik duduk di atas, pun ada masanya turun telungkup ke bawah. Silih berganti berpindah posisi dan kondisi.

Coba perhati pohon kelapa yang berdiri tegak menjulang ke langit biru. Pada kelapa ada putik buah disebut mumbang dan ada kelapa tua yang dulunya juga mumbang. Putik kelapa letak posisinya paling atas, sedangkan buah kelapa yang sudah tua posisi tandannya menempati paling bawah. Kelapa tua bila tiba waktunya, ia semakin berisi berguna.

Namun jika kelapa tua yang berisi berguna tak dipetik dan diturunkan, maka berubahlah ia. Kulitnya akan berganti dari hijau kuning segar menjadi coklat kering tak enak dipandang mata, isi dan airnya yang berisi lagi manis memupus dahaga berganti berubah menjadi busuk dan masam tak sedap baunya. Yang lebih parahnya, kelapa tua bila telah tiba masanyatak dipetik diturunkan ke dari tandannya, akan jatuh sendiri tak dihirau karena tak berguna lagi.

Perhatikanlah dengan seksama pada pohon kelapa. Ketika kelapa tua telah jatuh lekang dari tandannya, tempat posisinya akan diganti ditempati oleh mumbang atau putik kelapa. Dan pun bila belum tiba waktunya kelapa tua jatuh lepas dari tandannya, tempat posisi kelapa tua akan diisi dan diganti oleh mumbang yang telah berisi dan mulai keras batok tempurungnya.

Lihatlah bagaimana sabarnya kelapa tua yang bersedia ditekan dan dihimpit, kemudian digeser diambil posisinya oleh mumbang yang telah berubah wujud kelapa muda. Tapi sebuah sebuah mumbang juga sadar akan hakikat diri, saat dirinya belum punya batok, belum berisi apalagi berair, tetaplah butuh perlindungan dari kelapa tua yang ada di bawahnya.

BegItulah hikmah hidup yang dilakonkan oleh pohon kelapa. Mengajarkan pentingnya kesadaran akan regenerasi. Dalam hidup yang fana ini pastilah membawa tak lekang dari perubahan. Yang hidup pastilah menemui mati, yang muda akan menjumpai masa tua renta. Benarlah bunyi sebuah ungkapan, ‘Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.’

Yang tua mesti menyadari bahwa posisi dan tempatnya pastilah akan berpindah berganti. Memberi peluang tempat dan kesempatan bagi yang muda sebagai pelanjut estafet kehidupan mestilah ada dalam diri dan jiwa generasi tua, agar perputaran hidup normal senantiasa.

Ketika orang tua sedang menikmati duduk di posisinya, didik dan binalah mereka generasi muda; pemimpin di masa hadapan. Karena menyiapkan kepemimpinan setelahnya adalah langkah bijak lagi terpuji dari genarasi tua. Sedangkan mereka yang muda bersabarlah karena suatu saat akan tiba masanya.

Karena peralihan pergantian adalah sunnatullah yang tak bisa digoyah, dirobah siapa pun jua. Gunakan waktu di kala muda untuk belajar meraih bijak dari pengalaman hidup generasi tua, agar kesalahan lama tak lagi terulang di masa hadapan.