Hidup secara kaya menurut Islam?

Kehidupan Umri 03-Sep-2020
dreamstime_xs_178869346
Hidup secara kaya? © Sonyasgar | Dreamstime.com

Hidup kaya tidaklah dilarang dalam Islam. Kaya di dalam al-Quran tercatat sebanyak 73 kali dengan kata Al-Ghaniyyu (kaya). Ini menunjuk kepada dua konteks, pertama kaya dalam konteks Allah SWT sebagai pencipta dan pemberi rezeki, maha kaya dan maha mengkayakan. Kedua, kaya dalam konteks manusia, kekayaan yang diberikan Allah kepada siapapun yang dikehendaki.

Hadis Nabipun banyak terdapat anjuran untuk menjadi kaya. Sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, dari Sa’ad bin Abi Waqqas mengatakan bahwa suatu hari selepas haji wada’ Rasulullah SAW berpesan kepada Sa’ad bin Abi Waqqas r.a: “Jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya maka itu lebih baik, daripada meninggalkan mereka dalam kekurangan dan meminta-minta kepada orang lain.” Pesan ini tentu bukan untuk sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas saja. Namun lebih daripada itu, ini ditujukan untuk seluruh umat Muslim.

Harta kekayaan bukan hal yang haram untuk dimiliki umat Muslim, bahkan Islam sangat menentang umatnya untuk menjadi miskin. Rasulullah sudah mengingatkan bahwa kefakiran (kemiskinan) itu hampir-hampir sangat dekat dengan kekufuran. Miskin secara material dan spiritual. Keduanya sangat membahayakan bagi seseorang. Secara material adalah kekurangan harta benda duniawi, ini bisa mengakibatkan orang melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, merampok, menjual diri dan sebagainya. Sementara secara spritual ialah orang yang kaya harta namun lemahnya jiwa dan iman. Ia tidak mau membayar zakat, tidak sedekah, bermaksiat dan membuatnya semakin jauh dengan Allah SWT. Maka menjadi kaya secara material dan spritual sangat dianjurkan dalam Islam. 

Terdapat banyak contoh yang bisa dijadikan teladan, sebut saja nabi Sulaiman As. Ia adalah nabi yang dianugrahi kekayaan alam raya yang melimpah. Kerajaannya meliputi seluruh makhluk manusia dan jin. Begitu juga Baginda nabi Muhammad SAW, Baginda figur pengusaha dan ekonom yang canggih di masanya.

Istri nabi, Siti Khadijah r.a adalah wanita yang dikenal sangat kaya. Sahabat nabi Abu bakar dan Utsman bin Affan r.a yang sangat kaya dan dermawan. Abu Bakar r.a pernah menyerahkan 40.000 dinar uang untuk membebaskan budak, membiayai hijrah dan perjuangan nabi. Begitu juga Utsman bin Affan menyumbang 300 unta dan 1000 dinar untuk membeli tanah wakaf masjid dan membiayai Perang Tabuk. Masih banyak lagi sahabat nabi dan saudagar-saudagar Muslim yang kaya raya.

Namun, semua kekayaan itu dapat digunakan secara baik dan benar sesuai yang digariskan Allah SWT dalam surah al-Qashash 28, ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Buya Hamka dalam tafsirnya Al-Azhar membagi manusia ke dalam tiga bagian:

  • Lebih mementingkan Akhiratnya dari pada duniawinya, orang ini akan memperoleh kemenangan
  • Lebih mementingkan kehidupan duniawinya dari pada kepentingan akhiratnya, orang ini akan binasa
  • Mementingkan kedua-duanya, dan kehidupan dijadikan sebagai tangga untuk mencapai kebahagiaan Akhirat

Hidup secara kaya seperti dikehendaki oleh al-Quran dan sunnah nabi itulah yang harus dicapai oleh setiap Muslim. Hingga kebahagiaan bukan hanya didapatkan di dunia saja namun juga kebahagiaan di Akhirat kelak.