Hijrah bukan lari dari masalah, tetapi menyelamatkan risalah

Kepercayaan Sanak 20-Agu-2020
Hijrah untuk menyelamatkan risalah © Paulus Rusyanto | Dreamstime.com

Alkisah, beberapa orang pemuda pergi dari kampung halamannya untuk menjaga iman di dada. Dalam satu riwayat, seseorang yang telah membunuh 100 nyawa diterima taubatnya ketika bergerak menjauhi kota tempat dia bergelimang dosa. Sejarah berulang ketika nabi terakhir meninggalkan tanah kelahiran tercinta demi menyelamatkan risalah yang dibawanya. Hijrah adalah jalan menuju Surga.

Peristiwa Hijrah merupakan momentum untuk pengembangan dakwah, melandasi kedaulatan Islam serta penampilan integritas sebagai agama sepanjang zaman. Begitu banyak nilai filosofi yang didapatkan dari peristiwa Hijrah. Hal ini menjadi landasan bagi dewan syura semasa Khalifah Umar bin Khattab r.a menetapkannya sebagai awal mula kalender Islam. Usulan dari sahabat Ali bin Abi Thalib r.a ini diambil secara aklamasi setelah melalui perdebatan panjang.

Hijrah bukan sekadar pindah rumah atau tempat tinggal, namun perintah Allah SWT yang juga merupakan strategi perjuangan dalam dakwah Islam. Sebagaimana terdapat dalam Al-Quran: “Mereka menjawab, ‘Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).’ Mereka (para malaikat) bertanya, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?’

Maka orang-orang itu tempatnya di Neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah), maka mereka itu, mudah-mudahan Allah SWT memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.

Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah SWT, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Surah An-Nisa, ayat 97-100)

Berdasarkan ayat di atas, Hijrah masih diperintahkan hingga akhir zaman. Karena sejatinya hijrah adalah meninggalkan hal dilarang dan kembali kepada jalan Allah SWT sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Fathul Bari.

Rasulullah SAW bersabda: “Muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti Muslim dengan lidah dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan semua apa yang Allah SWT telah larang.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

Maka sudah seharusnya momen pergantian tahun baru Hijriah diperingati dengan memuhasabah diri bukannya dengan seremoni belaka ataupun acara yang mengundang dosa.