Hijrah dalam Islam dan melakukan hijrah maknawiah

dreamstime_s_190460517
Hijrah dalam Islam dan melakukan hijrah maknawiah © Sonyasgar | Dreamstime.com

Hijrah dalam Islam dan melakukan hijrah maknawiah – Hijrah bukan sekedar perjalanan biasa. Bukan seperti sebagian orang yang melakukan rihlah atau tamasya yang penuh dengan kesenangan. Bukan juga seperti traveling yang penuh dengan kenyamanan dan keindahan.

Akan tetapi, hijrah ini adalah perjalanan yang penuh dengan rintangan dan tantangan. Karena musuh Islam dari kalangan orang Quraisy tidak membiarkan sebagian sahabat ini menikmati kebebasan dalam melaksanakan agama Allah SWT di tempat yang baru.

Tiga kali Hijrah

Hijrah yang pernah dilakukan sebagian sahabat dan seluruhnya bersama Nabi Muhammad SAW adalah sebanyak tiga kali.

Pertama: Dilakukan oleh 12 sahabat dan empat sahabiah yang dipimpin langsung sahabat Utsman bin Affan r.a bersama istrinya Ruqayyah r.a (anak Nabi Muhammad SAW) pada bulan Rajab tahun lima kenabian.

Kedua: Setelah ada berita yang sampai kepada mereka yang hijrah bahwasanya Kuffar Quraisy memeluk Islam setelah mendengar ayat-ayat al-Quran yang dibacakan kepada mereka. Saat mereka melihat yang sebenarnya tentang kuffar Quraiys di Makkah pada bulan Syawal, ternyata berita yang sampai mereka ketika masih di Etiopia tidak benar. Maka penyiksaan dan penganiaan semakin meningkat di Makkah.

Dan dalam kondisi penganiaan dan penyeksaan yang semakin meningkat dan lebih brutal, Rasulullah SAW mengizinkan gelombang kedua dari sahabatnya untuk berhijrah kembali. Maka pada saat itu ada 83 sahabat dan 18 atau 19 sahabiah yang melakukan hijrah kembali ke Etiopia yang kedua kalinya.

Dalam Hijrah yang kedua ini, Kuffar Quraisy tidak tinggal diam membiarkan para Sahabat Hijrah dengan rasa aman dan nyaman. Makan dikirimlah dua pemuda Quraiys yang sangat cerdas ke Etiopia dengan targert mengembalikan para sahabat ke Makkah lagi.

Mereka berdua adalah Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabiah (yang akhirnya keduanya masuk Islam). Namun, usaha mereka gagal saat melobi Raja Najasy yang adil agar diizinkan membawa pulang para sahabat kembali ke Makkah.

Ketiga: Hijrah semua sahabat dan Rasulullah SAW ke kota Madinah setelah diawali dengan adanya 2 kali peristiwa baiah dari sebagian penduduk Madinah dari kaum Aus dan Khazraj.

Tidak ada Hijrah Lagi

Nabi Muhammad SAW berikut ini:

 “Tidak ada lagi hijrah setelah kemenangan (Makkah) akan tetapi yang tetap ada adalah jihad dan niat.”

(Hadis riwayat al-Bukhari)

Setelah adanya kemenangan dalam Fathu Makkah, maka tidak perlu lagi bagi ummat Islam melakukan Hijrah secara fisik. Akan tetapi yang harus dilakukan adalah perjuangan (jihad) dan niat itu sendiri.

Hijrah Maknawiah

Hijrah saat ini yang paling tepat adalah hijrah maknawi. Hal ini seperti yang disabdakan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya.

“dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” HR Al-Bukhori

Hijrah maknawiah adalah hijrah dengan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah SWT. Setiap muslim yang telah meninggalkan hal-hal yang diharamkan Islam, maka ia termasuk orang yang telah melakukan Hijrah secara maknawiah.

Sebagai contoh, seperti melakukan hijrah dari kesyirikan menuju ketauhidan, dari kemungkaran menuju ketaatan, dari kemunafikan menuju keikhlasan, dari jahiliah menuju keislaman.