Hijrah dan hidayah kaum Milenial

Islam Merry Lestari
Merry Lestari
Hijrah dan hidayah kaum Milenial
Hijrah dan hidayah kaum Milenial © Albertshakirov | Dreamstime.com

Pada era globalisasi saat ini, segala sesuatu sudah semakin maju dan serba canggih namun semua itu tidak lantas menggeser keeksistensian Islam di tengah masyarakat Milenial.

Eksistensi keislaman pada saat ini justru semakin berkembang bahkan menjadi sebuah tren yang ramai-ramai banyak diikuti masyarakat. Tak sedikit masyarakat milenial yang berbondong-bondong hijrah kembali ke jalan Allah SWT.

Biasanya hijrah diawali dengan datangnya hidayah yang diberikan Allah Taala kepada seorang hamba-Nya. Namun mengingat bagaimana Islam yang saat ini cenderung menjadi sebuah tren di tengah masyarakat milenial, benarkah hijrah akan selalu berdampingan dengan adanya hidayah?

Hijrah dan hidayah kaum Milenial

Hijrah secara bahasa berasal dari kata dasar bahasa Arab ‘Hajara-yahjuru’ yang padanannya dalam Bahasa Indonesia adalah memutuskan, meninggalkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa hijrah adalah suatu tindakan yang dilakukan atas dasar keimanan, serta dilakukan dengan bersungguh-sungguh.

Kata hijrah akan selalu erat kaitannya dengan peristiwa hijrah (berpindah)nya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Namun pada saat ini, hijrah tak lagi diidentikkan dengan perpindahan tempat saja.

Hijrah di sini dipahami sebagai sebuah perubahan pada diri seorang muslim. Mulai dari perilaku, hingga penampilannya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya dan sesuai dengan syariat Islam semata-mata hanya mengharap rida Allah Taala.

Perihal (perintah) berhijrah sendiri telah tertulis dalam firman Allah SWT:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(Quran surah al-Baqarah, ayat 218)

Dewasa ini, fenomena hijrah semakin naik daun, terutama di negara Indonesia. Tren hijrah ini terutama didorong oleh para pesohor dan milenial muslim kelas menengah di perkotaan yang berhijrah dan mempromosikannya melalui berbagai posting di media sosial.

Hijrah bukan tren tapi proses mendapat petunjuk Allah SWT

Tren ini kemudian ditangkap dalam skala yang lebih besar. Ini mengundang ketertarikan beberapa kalangan untuk mendiskusikannya secara lebih akademik dan saintifik, melalui berbagai diskusi dan seminar. Bahkan, ada yang membahasnya dari sudut pandang kebangsaan, nasionalisme, hingga radikalisme.

Fenomena tersebut seolah menunjukkan bahwa tren hijrah yang tengah terjadi saat ini terlihat lebih menonjol ketimbang substansi hijrahnya sendiri. Sehingga di sinilah peran para ulama, asatiz, ahli agama, serta orang-orang yang sudah lebih dahulu paham – dapat berperan besar untuk meluruskan kembali motivasi dan proses berhijrah kaum milenial ini.

Proses berhijrah gaya milenial yang tak semata mengikuti arus untuk mengakomodir kebutuhannya akan identitas spiritualismenya secara instan saja. Melainkan lebih jauh lagi – mengarah kepada mendalami, serta memahami Islam secara kaaffah (keseluruhan dalam artian sempurna). Selanjutnya, mengamalkannya dalam perilaku hidup keseharian yang sesuai dengan tuntunan agama dan sunnah Rasulullah SAW.

Karena pada dasarnya proses berhijrah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sabahat, merupakan awal, kunci pembuka untuk perjalanan spiritualisme yang lebih panjang dan lebih kaaffah.

Hijrah bukan tujuan, bukan sekedar mengikuti tren yang sedang ada maupun panjat sosial demi popularitas sesaat. Tapi  hijrah merupakan sebuah proses untuk mendapatkan sebuah hidayah atau bimbingan atau petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT untuk seseorang.

Ilham dalam hati untuk mengikuti jalan yang benar

Hidayah ini berupa terbukanya hati dan lapangnya dada untuk meyakini kebenaran agama Islam. Karena ketika berbicara hidayah, maka kita sedang membahas perkara yang paling penting serta kebutuhan yang paling besar dalam kehidupan manusia.

Hidayah adalah alasan utama dalam keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia maupun di akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah SWT untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar.

Dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya sebagaimana diingatkan Allah SWT, hijrah itu didasarkan atas keimanan, dilakukan secara bersungguh-sungguh dan semata-mata berharap rida dan rahmat-Nya.

Sebagaimana firman Allah Taala dalam Quran surat al-A’raf, ayat 178.

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat).”

Sehinga orang yang berhijrah karena mendapatkan hidayah dari Allah SWT berarti orang tersebut telah Allah berikan hidayah taufik atau hidayah yang paling sempurna.

Yang mana hidayah taufik merupakan ilham dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya. Inilah hidayah (sempurna) yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah Taala.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.