Hijrah itu mudah, yang berat istikamah

Kehidupan Bunda Novi 06-Jul-2020
Lakukan hijrah dengan sikap istikamah © Sonyasgar | Dreamstime.com

Hijrah secara definisi dibagi menjadi 2, yakni:

  • Hijrah secara harfiah yang berarti berpindah
  • Hijrah secara istilah masih dibedakan lagi menjadi 2 definisi, yakni Hijrah Makani (makani) dan Hijrah Maknawi (nilai)

Apa itu Hijrah Makani? Hijrah Makani itu artinya bahwa secara fisik kita berpindah tempat dari tempat yang buruk ke tempat yang lebih baik. Contohnya hijrahnya Rasulullah SAW bersama para sahabatnya saat itu dari Makkah ke Madinah (Yastrib) karena Makkah saat itu dirasa sudah tidak kondusif untuk Baginda dan para sahabatnya menyebarkan dakwah Islam.

Begitu juga sebelum kisah hijrah Rasulullah Muhammad SAW ini, ada kisah Nabi Ibrahim a.s yang juga pernah melakukan perjalanan hijrah dari Babilonia menuju Palestina dan kemudian ke Mesir atas perintah dari Allah SWT.

Selanjutnya Hijrah Maknawi (nilai) ini menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah adalah berpindah dari sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya menuju kepada yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Momentum hijrah

Momentum hijrah sebenarnya ditandai dengan kisah perjalanan hijrah Rasulullah Muhammad SAW bersama para sahabatnya dari Makkah menuju Madinah dengan jarak 450km yang ditempuh dalam waktu empat hari empat malam lewat perjalanan darat. Dari sinilah sebenarnya Hijrah Makani yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya ini juga bermuatan nilai.

Mengapa demikian? Masih ingat kisah sahabat nabi yang seorang wirausahawan sukses bernama Abdurrahman bin Auf r.a? Siapa yang tak mengenal sosoknya? Dalam berbagai buku siroh betapa beliau digambarkan sosok kaya raya di zamannya. Tetapi, saat memutuskan untuk bergabung bersama Rasulullah SAW dan para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah maka ditinggalkannya seluruh harta kekayaannya. Tak sedikitpun ia bawa.

Hingga kemudian Rasulullah SAW mempersaudarakan beliau dengan kaum Anshar yang juga merupakan seorang saudagar kaya di Madinah: Sa’ad Ibnu Sarabil. Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa: “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah SWT, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (Hadis riwayat Ahmad)

Hingga kemudian seiring berjalannya waktu Allah SWT menggantikan dengan kekayaan yang semakin berlimpah kepada Abdurrahman bin Auf r.a tersebut. Tentu saja momentum kisah hijrah Rasulullah Muhammad SAW ini menjadi awal landasan kita memahami makna hijrah yang sesungguhnya. Hingga akhirnya tahun ini pun disebut sebagai tahun baru Hijriah untuk menandai dan mempermudah kaum muslimin mengingatnya.

Allah SWT meninggikan derajat orang yang berhijrah

Setelah kita tahu makna dari hijrah dan momentum hijrah dari kisah Rasulullah SAW itu bersama para sahabatnya. Apa kemudian yang harus kita lakukan? Sudahkah kita berhijrah sebenar-benar hijrah? Atau hanya ikut-ikutan tren saja? Atau masih ada yang pikir-pikir dulu mau berubah?

Kalau kita mau jujur, kiranya tak ada di antara kita yang bercita-cita ingin masuk neraka, semua pastilah berlomba-lomba ingin mendapatkan Surga-Nya. Untuk sebuah kaveling termewah dan teristimewa bernama Surga, tentu saja kita harus berusaha bersungguh-sungguh meraihnya. Tak ada waktu lagi untuk pikir-pikir dulu, apalagi menimbang ulang atau bahkan tak bersegera menyambut seruan ini padahal kita mengetahuinya.

Kita juga tidak pernah tahu sampai kapan jatah hidup kita ini diberikan Allah SWT untuk kita. Bersyukur jika Allah mengaruniakan kita umur panjang. Tetapi jika sebaliknya, masih pantaskah kita menjadi penghuni Surga?

Seperti yang Imam Hasan Al Bashri katakan: “Wahai manusia, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari, setiap hari berkurang, berarti berkurang pula bagianmu.”