Hukum bersiwak atau menggosok gigi ketika puasa

Islam untuk Pemula Merry Lestari
Pilihan oleh Merry Lestari
Hukum bersiwak atau menggosok gigi ketika puasa
Hukum bersiwak atau menggosok gigi ketika puasa © Sharaf Maksumov | Dreamstime.com

Bulan puasa sudah dekat! Kita sedang berada di bulan ketujuh, Rajab dan seterusnya Syakban. Ketika berpuasa saat Ramadan tiba, kita tak hanya harus menahan rasa haus dan lapar. Ada banyak hal yang juga tidak boleh dilakukan ketika sedang berpuasa, demi mendapatkan keberkahan dari ibadah puasa yang kita jalani.

Banyak larangan-larangan yang beredar di tengah masyarakat perihal hal-hal yang katanya dapat membatalkan puasa. Seperti bersiwak (menggosok gigi), mengorek telinga dan hidung, menangis, mulut berdarah, muntah, dan masih banyak lagi.

Meskipun tidak didukung dengan dasar hukum yang kuat, namun larangan-larangan tersebut tetap dibenarkan oleh sebagian masyarakat karena kebiasaan tersebut telah  turun-temurun dari orang-orang terdahulunya.

Hukum bersiwak atau menggosok gigi ketika puasa

Bersiwak (menggosok gigi) setiap waktu adalah satu amalan yang disukai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siwak atau miswak biasanya menggunakan dahan atau akar dari pohon Salvadora Persica untuk membersihkan gigi, gusi dan mulut.

Dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya aku tidak memberatkan umatku atau manusia, maka sungguh akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak di setiap akan salat.”

(Hadis riwayat al-Bukhari)

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW sangat menekankan bagi umatnya untuk memperhatikan kebersihan mulutnya dengan cara bersiwak atau menggosok gigi. Namun, seiring dengan kemajuan zaman, siwak pada saat ini diganti dengan sikat gigi yang diolesi dengan pasta gigi (odol).

Kemudian ketika berpuasa kita kadang menjadi ragu-ragu untuk mengerjakan amalan bersiwak tersebut. Karena adanya berbagai larangan yang beredar di tengah masyarakat mengatakan bahwa bersiwak ketika puasa dapat membatalkan puasa.

Hukum menggosok gigi – dua pendapat

Hukum bersiwak ketika puasa dalam pandangan para ulama terbagi menjadi dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa bersiwak atau menggosok gigi itu hukumnya sunnah setiap waktu dan dalam keadaan apapun.

Dasar hukum tersebut diambil dari salah satunya sebuah hadis fi’li Rasulullah SAW yang disampaikan oleh Amir bin Rabi’ah, ia berkata:

“Aku pernah melihat Nabi SAW bersiwak sedangkan ia dalam keadaan puasa hingga aku tidak bisa menghitung jumlahnya.”

(Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Selain itu mereka juga mendasarkan pada riwayat Aisyah r.a, dari Nabi Muhammad SAW:

“Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan rida Allah.”

Pendapat pertama ini merupakan pendapat dari mayoritas ulama yang di antaranya adalah Imam al-Bukhari dalam kitab Shahihnya.

Hukum sunnah dan makruh

Berikutnya, pendapat kedua yaitu  ulama yang mengatakan bahwa bersiwak itu hukumnya makruh bagi orang yang berpuasa ketika setelah tergelincirnya matahari atau di waktu siang hari.

Adapun dasar yang mereka gunakan dalam pendapat kedua ini adalah hadis Nabi Muhammad SAW:

“…., Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, sungguh bau aroma mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah SWT daripada aroma parfum kasturi.”

(Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan  hadis tersebut, ulama dari golongan ini berpendapat bahwa waktu siang itu saat di mana bau mulut berubah, dan di saat ini Allah SWT sangat memuliakan orang yang berpuasa. Bahkan, aroma mulutnya lebih wangi daripada wangi kasturi.

Maka dari itu ulama golongan kedua ini menjadikan keutamaan aroma mulut orang yang berpuasa tersebut lebih afdhal dari pada bersiwak. Seperti halnya orang yang mati syahid, mandi bagi mereka tidak lagi wajib baginya. Bahkan, tidak boleh karena menjaga tetapnya darah ditubuh mayat itu sebagai saksi di hadapan Allah SWT.