Ibnu al-Khatib, penyair dan dokter muslim dari Andalusia

Eropa Muhammad Walidin
Terbaru oleh Muhammad Walidin
Ibnu al-Khatib, penyair dan dokter muslim dari Andalusia
Ibnu al-Khatib, penyair dan dokter muslim dari Andalusia © alhambra-patronato.es

Kerajaan Islam Granada adalah pewaris Andalusia Besar setelah serangkaian perang yang panjang melawan Kristen Spanyol yang berkembang seiring dengan berlalunya waktu untuk mengambil alih kota-kota Islam Andalusia dari Barcelona, ​​Zaragoza dan Toledo ke Cordoba, Valencia, Shata, dan lain-lain.

Pada paruh terakhir abad ketujuh Hijriah atau  abad ke-13 Masehi kehadiran Islam di selatan semakin redup, tinggal tersisa Dinasti Nasrids di Granada dan sekitarnya. Terlepas dari kemunduran politik dan militer ini, dan perang terus menerus melawan front Spanyol, sisi intelektual dan budaya malah menunjukkan kemajuan.

Bahkan, kemajuan tersebut mencapai puncak kejayaannya di era Sultan Abi Al-Hajjaj Yusef bin Ismail Al-Nasri (733-755 Hijriah), dan putranya Sultan Muhammad V (755-793 H). Pada era ini,  sekelompok besar pemikir, penulis, dan penyair muncul gemilang mengembalikan kemegahan produksi intelektual dan sastra.

Mereka adalah Ibnu Khatimah Al-Ansari, Menteri Ibn Al-Hakim Al-Lakhmi, Menteri Ibnu Al-Jayyab, Al-Hakim Yahya Bin Hudhail, Menteri Ibnu Zamrak, dan Pangeran Ismail bin Al-Ahmar, serta Ibnu al-Khatib.

Ibnu al-Khatib, penyair dan dokter Muslim dari Andalusia

Ibnu al-Khatib atau Muhammad bin Utsman ibnu Al-Khatib (713 Hijriah/1313-1375) yang biasa disebut dengan Al-Jatib adalah seorang polymath (seorang yang mendalam pengetahuannya tentang berbagai topik). Ia berhasil menjadi penulis, penyair, dokter, sejarawan, sekaligus politikus andal dari Andalusia.

Sejak kecil Ibnu al-Khatib gemar sekali belajar terutama belajar tentang segala hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. karya-karya tulisnya menghiasi berbagai bidang, seperti sastra,  sejarah, geografi, syariah, politik, kedokteran, perburuan, musik, dan botani.

Ibnu al-Khatib sebagai penyair

Ibnu a-Khatib adalah penulis dan penyair besar Andalusia. Sebagai seorang penyair, gaya bahasanya sangat indah sehingga sulit ditandingi oleh para penyair Andalusia lain pada masa itu.

Dinding-dinding istana Alhambra, Granada juga menjadi saksi atas karya-karya puisi Ibnu al-Khatib. Bersama dengan karya pendahulunya Ibnu al-Jayyab (1274-1349), dan muridnya Ibnu Zarmak (1333-1393), syair Ibnu al-Khatib turut mempercantik indahnya istana Alhambra.

Adapun dalam bidang prosa, Ibnu al-Khatib mengkhususkan diri menulis prosa seputar masalah politik dan surat-surat diplomasi.  Surat tersebut ditulisnya dalam rangka mewakili sang sultan untuk raja-raja di Spanyol dan para sultan di Maroko.

Kumpulan tulisan Ibnu al-Khatib tentang politik terkandung dalam karyanya, Rayhanah al-Kuttab. Buku ini memiliki kelebihan dari aspek bahasa yang nikmat saat  dibaca. Kalimatnya juga singkat sehingga mudah dicerna. Melalui karya ini, kepiawaiannya dalam bidang politik terlihat jelas, pun wawasannya yang jauh ke depan.

Kepenyairan Ibnu al-Khatib juga dapat dilacak dalam buku Nafth al-Thayyib karya Al-Maqri al-Til Matsani. Buku ini mengulas tentang sosok Ibnu al-Khatib, syair, dan prosanya yang mengagumkan. Ulasan tentang Ibnu al-Khatib dan karyanya ditulisnya dalam dua jilid Nafth al-Thayyibb dari sepuluh jilid yang ada.

Ibnu al-Khatib sebagai dokter 

Ibnu Al-Khatib juga merupakan seorang dokter yang sangat terkenal di Eropa karena wabah pes tahun 1346-1353. Wabah yang menyerang Eropa ini dikenal dengan Black Death yang merengggut 25 juta jiwa meninggal, baik di Asia, Afrika, dan Eropa.

Ketertarikan Ibnu al-Khatib terhadap dunia kedokteran telah lama bersemi. Ia sering berseberangan dengan hadis-hadis (mungkin daif) atau pendapat umum yang berlawanan dengan percobaan medis.

Contohnya, pada kasus wabah di atas, kalangan rahib Kristen menganggap wabah itu kutukan. Namun, beliau mencoba menelitinya dengan cermat. Ia menemukan bahwa salah satu penyebab dari wabah tersebut adalah masalah kebersihan tubuh.

Ibnu al-Khatib ia berhasil menemukan bahan pembersih tubuh berupa sabun di mana hal itu dapat mengurangi dampak dari pada wabah tersebut.  Orang Barat akhirnya mengenal benda ini dan diberi nama ‘Soap’ yang diambil dari kata ‘Suf’ dalam bahasa Arab.

Ibnu al-Khatib tidak pernah ragu bahkan takut untuk meneliti suatu hal, terutama yang berhubungan dengan ilmu kedokteran. Jadi tidak heran jikalau beliau menjadi seorang yang referensi utama  di bidang kedokteran.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.