Ibnu Batutah, pengelana Muslim pertama

history.com
Gambaran Ibnu Batutah di Mesir © history.com

Para turis milenial sangat beruntung karena perjalanan mereka saat ini didukung oleh fasilitas kenyamanan, keamanan, transporasi murah, dan akomodasi yang variatif. Coba bandingkan dengan pengelana muslim Ibnu Batutah  (1304-1369 Masehi).

Perjalanannya selama  30 tahun mengelilingi 44 negara tentulah banyak sekali menghadapi tantangan. Perjalanan yang epik tersebut bisa anda baca dalam buku edisi Indonesia Rihlah Ibnu Bathutah (Penerbit al-Kautsar).  

Rihlah, karya catatan detail perjalanan Ibnu Batutah

Buku Rihlah sebagai karya catatan detail perjalanan Ibnu Batutah yang ditulis oleh Ibnu Jauzy, seorang sarjana sastra Andalusia. Ia diminta oleh Abu Inan; penguasa Marinid dan Maroko untuk menyimak dan mencatat perjalanan Ibnu Batutah. Sang Pengelana Muslim Pertama inipun harus mendiktekan seluruh kisah perjalanannya kepada Ibnu Jauzy selama dua tahun.

Perjalanan Ibnu batutah dimulai dari kota Tangier, Maroko. Saat itu ia masih berusia 20 tahun dengan gejolak jiwa melakukan perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ibnu Batutah memang terlahir sebagai pengembara, pengelana, dan pengamat. Selama di Mekkah, ia senang sekali bertemu dengan orang-orang baru, budaya baru, dan tempat-tempat baru. Sejak itu ia berencana memulai perjalanan berkeliling dunia seorang diri.

Perjalanan Ibnu Batutah tidaklah segaris lurus dengan Jalur Sutra yang membentang dari Timur hingga Eropa. Hal ini disebabkan perjalanan itu diulang beberapa kali. Saat pertama ke Mekkah, ia memulai dari perjalanan dari Tangier (Maroko), Afrika Utara (Tunis, Kairo), lalu Negeri Syam (Palestina, Damaskus), kemudian sampai ke Mekkah. Perjalanan pertama ini ditempuh dalam waktu 1.5 tahun.

Episode kedua dari perjalanannya adalah menuju Irak dan Persia melewati Jalur Sutra. Ia mengunjungi kota Baghdad, Tibriz, dan Mosul. Kemudian, arahnya berbalik lagi ke Afrika Timur mengunjungi Somalia dan Tanzania. Dari sini, ia kembali lagi ke kota Mekkah.

Eksplorasi 30 tahun perjalanan

Dari Mekkah ia mengeksplorasi wilayah utara dengan pergi ke Asia Kecil (Turki) dan Semenanjung Crimea. Kemudian ia berjalan ke timur dan berbalik ke Selatan menuju Asia Selatan (India, Srilanka, Maladewa). Ia terus menyelusuri Asia Tenggara (Sumatera) dan menuju Asia Timur (Tiongkok).

Ia tiba di Guangzhou pada tahun 1345 dan berdiam di sana selama setahun. Setelah itu, ia kembali ke Maroko tetapi bukan untuk pulang. Ia malah meneruskan perjalanannya ke Spanyol (Andalusia). Kemudian balik lagi ke benua hitam untuk mengeksplorasi Afrika Tengah (Mali).

Apa yang dilakukan oleh Ibnu Batutah selama 30 tahun perjalanan? Ia bertindak sebagai pengamat budaya. Pengamatannya terhadap penduduk Mekkah menghasikan tesis bahwa penduduk Mekkah sangat bersih dan wanitanya cantik dan wangi. Penduduk Maldives memiliki tradisi mahar yang sangat murah sehingga nikah cerai di wilayah ini sangat mudah.

Ia juga menyimpulkan wanita Turki sangat dihargai karena banyak menduduki jabatan. Lalu pendatang di Cina selalu diidentifikasi dalam sebuah potret wajah sehingga memudahkan pencarian bila pendatang itu bermasalah. Dalam perjalanan itu, ia juga sering bertindak sebagai pensyiar islam karena sejatinya ia adalah seorang ulama yang berkelana sambil menyebarkan ilmunya.

Hasrat berjalan tiada pernah habis, namun ia menghentikan perjalanannya pada tahun 1354. Mendengar sang pengembara telah pulang, Penguasa Marinid segera memerintahkan Ibnu Jauzy untuk mencatat segala perjalanan Ibnu Batutah. Selama sisa usianya di Maroko, ia menjadi Hakim membantu penguasa. Ia meninggal usia 65 tahun di Marakesh, Maroko pada tahun 1369.