Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Ibnu Rusyd: sang filsuf dan Muslim intelek dari Andalusia

Eropa 02 Feb 2021
Terbaru oleh Muhammad Walidin
Ibnu Rusyd: sang filsuf dan Muslim intelek dari Andalusia
Ibnu Rusyd: sang filsuf dan Muslim intelek dari Andalusia (foto: patungnya di Cordoba, Spanyol © Jozef Sedmak | Dreamstime.com

Ibnu Rusyd adalah seorang filsuf dan pemikir dari Andalusia yang menulis berbagai bidang disiplin keilmuan, baik itu filsafat, teologi Islam, kedokteran,  astronomi, fisika, fiqih, hukum Islam dan kebahasaan.

Banyaknya bidang yang ia  tekuni membuat ia disebut sebagai Polymath.

Ibnu Rusyd: sang filsuf dan Muslim intelek dari Andalusia

Ibnu Rusyd atau dikenal sebagai Averroes di Barat bernama asli Abu Ya’al al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rusyd. Ia  lahir pada tahun 1126 Masehi/520 Hijriyah di Cordoba.

Keluarga Ibnu Rusyd terkenal sebagai tokoh masyarakat di Cordoba karena mereka sangat berperan dalam bidang hukum dan agama. Kakeknya bernama Abu al-Wali Muhammad merupakan imam Masjid Agung di Cordoba. Ayahnya bernama Abu Al-Qasim Ahmad menjabat sebagai Hakim pada masa kekuasaan Dinasti Murabithun.

Pada tahun 1169, Ibnu Rusyd bertemu dengan Khalifah Abu Yakub Yusuf.  Sang Khalifah sangat senang dan terkesan dengan pengetahuan yang dimiliki Ibnu Rusyd. Khalifah memujinya dengan sebutan  ‘Orang yang berlimpah pengetahuan’.

Sejarah intelektual dan pengaruh Ibnu Rusyd

Kedua tokoh ini memiliki hubungan yang sangat baik sampai Khalifah Abu Yakub Yusuf wafat. Khalifah secara berturut-turut memberikan jabatan  sebagai hakim di Sevilla tahun 1169 Masehi.

Pada tahun 1182 Masehi, Ia diangkat sebagai dokter Istana menggantikan Ibnu Tufail. Di tahun yang sama, ia juga merangkap sebagai hakim di Cordoba. Salut sekali dengan tokoh ini yang menjabat bidang berlainan dalam waktu bersamaan.

Di samping menjabat berbagai bidang bergengsi, Ibnu Rusyd sangat menyukai filsafat. Bahkan ia mendapatkan proyek dari khalifah Abu Yakub untuk menafsirkan pemikiran filsafat Aristoteles yang sangat logis namun rumit itu.

Ibnu Rusyd menyakini bahwa filsafat dapat menyelaraskan iman dan ilmu, kebenaran agama dan kebenaran ilmiah. Ia mendukung filsafat Ibnu Sina, al-Kindi, dan Ibnu Arabi. Sebaliknya, ia menangkis pendapat al-Ghazali tentang kesesatan para filsuf.

Menurut al-Ghazali, para filsuf telah ‘kafir’ dalam tigal hal. Intinya, para filsuf ini terlalu memuja akal, seperti Aristeotelian lainnya.  Dunia timur saat itu mendukung pemikiran al-Ghazali.

Pemikiran filsafatnya menghadapi tantangan

Alur pemikiran filsafatnya yang berseberangan ini membuatnya menghadapi tantangan keras dari berbagai pihak. Para ulama menekan khalifah agar menghentikan pemikiran  filsafatnya. Tidak saja teolog muslim yang menolak pemikiran filsafat Ibnu Rusyd, tetapi juga teolog Kristen.

Akibatnya, buku-bukunya dibakar atas perintah pengadilan, kecuali bidang kedokteran dan astronomi. Oleh karena itulah kebanyakan buku Ibnu Rusyd yang ditemuka belakangan adalah dalam bahasa latin hasil terjemahan.

Sementara buku aslinya berbahasa Arab telah habis dibakar. Semenjak saat itu Ibnu Rusyd diasingkan ke kota kecil: Lucena, sebuah pemukiman Yahudi yang berada di sekitar Cordoba.

Setelah beberapa tahun menjalani pengasingan di Lucena, pihak istana memanggil Ibnu Rusyd untuk bertugas kembali. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama karena Ibnu Rusyd wafat pada tanggal 11 Desember 1198 atau 5 Safar 595 Hijriyah.

Awalnya ia dikuburkan di Maroko, akan tetapi kemudian jenazahnya dipindahkan ke Cordoba, kota kelahirannya.  Pemakamannya di Cordoba dihadiri oleh Ibnu Arabi yang selanjutnya akan menjadi tokoh sufi yang terkemuka pada saat itu.

Karya-karya Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd telah menulis sedikitnya 67 buku yang merupakan karya baru. Ada 28 buku mengenai filsafat, 20 buku kedokteran, 8 buku hukum, 5 buku teologi atau akidah, 4 buku tata bahasa dan 2 buku astronomi.

Dalam berbagai macam karyanya ia selalu membagi pembahasannya dalam 3 bentuk yaitu komentar, kritik, dan pendapat. Ia juga adalah seorang komentator sekaligus kritikus ulung yang bisa menjadikannya terkenal di kalangan ilmuwan Eropa.