Iktikaf dan ketentuan hukumnya

Islam untuk Pemula Roni Haldi Alimi
Pilihan oleh Roni Haldi Alimi
Iktikaf dan ketentuan hukumnya
Iktikaf dan ketentuan hukumnya © Tim Gurney | Dreamstime.com

Melaksanakan iktikaf adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan disamping memiliki keutamaan khususnya bila dikerjakan di bulan suci Ramadan. Karena Rasulullah SAW pun melaksanakannya di 1O terakhir bulan Ramadan.

Agar iktikaf yang akan kita laksanakan dikira sebagai ibadah dan mendapat pahala dari Allah Taala, maka mestilah memperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan pemahaman dan hukum pelaksanaannya.

Pengertian dan dalil pensyariatan iktikaf

Secara bahasa iktikaf berasal dari kata ‘al-habsu’ yang artinya ‘memenjarakan diri’. Berarti maknanya adalah memenjarakan diri sendiri dari sesuatu yang biasa.

Sedangkan secara istilah iktikaf adalah berdiam diri di dalam mesjid dengan tata cara tertentu dan disertai niat.

“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud.”

(Quran surah Al-Baqarah, ayat 125)

Sedangkan dari hadis Rasulullah SAW banyak sekali keterangan yang menjelaskan bahwa Baginda melakukan iktikaf, di antaranya:

“Siapa yang ingin beriktikaf denganku, maka lakukanlah pada sepuluh terakhir.”

(Hadis riwayat Bukhari)

Hukum dan rukun iktikaf

  1. Sunnah, meski bersepakat tentang hukum sunnahnya beriktikaf, namun terjadi sedikit perbedaan pebadapat diatara para Ulama. Menurut mazhab Syafi’i, seluruh iktikaf itu hukumnya sunnah muakkadah, kapan saja dilakukan apalagi dilakukan di bulan Ramadan. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, iktikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadan adalah sunnah muakkadah sedangkan di luar Ramadan hukumnya mandub.
  2. Wajib, hukumnya akan berubah jadi wajib bagi mereka yang bernadzar untuk melakukan iktikaf yaitu apabila doanya dikabulkan Allah SWT.
  3. Fardhu Kifayah, mazhab Hanafi menyebutkan bahwa hukum beriktikaf di sepuluh Ramadan adalah fardhu kifayah bagi sekelompok masyarakat di suatu tempat.

Jumhur  ulama menyepakati ada empat macam rukun yang harus dipenuhi oleh siapa saja yang ingin beriktikaf:

  • Orang yang beriktikaf
  • Niat beriktikaf
  • Tempat pelaksanaan iktikaf
  • Berada di dalam mesjid

Bagi orang yang beriktikaf, ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi. Seperti Islam, mumayyiz, berakal, suci dari janabah, dan tidak haid atau nifas. Adapun tempat pelaksaan iktikaf, para jumhur ulama menyepakati bahwa tempat beriktikaf adalah dilakukan di dalam mesjid.

Sedangkan perkara yang bisa membatalkan iktikaf adalah murtad, mabuk, haid atau nifas,  jima’, keluar dari mesjid tanpa sesuatu hajat yang dibolehkan oleh syari’at seperti buang air atau hajat, makan minum, menjenguk orang sakit atau jenazah.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.