Buletin SalamWebToday
Daftar untuk mendapatkan artikel SalamWeb Today mingguan!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Ilmu sosial Ibnu Khaldun

Timur Tengah 31 Des 2020
Kkartika Sustry
Ilmu sosial Ibnu Khaldun (Patung Ibnu Khaldun di Lapangan Kemerdekaan, Tunis)
Patung Ibnu Khaldun di Lapangan Kemerdekaan, Tunis © Andrey Zhuravlev | Dreamstime.com

Manusia tak luput dari bantuan orang lain, maka dari itu penting untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dengan kata lain bahwa manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu apa makna sosial tersebut bagi kehidupan manusia?

Kita bisa lihat pada teori yang dipelopori oleh Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun, tokoh penting peradaban Islam

Ibnu  Khaldun lahir di Tunis pada 27 Mei 1332. Ia merupakan pemuda terpelajar dengan mampu menghafal al-Quran, hadis, menulis sastra, retorika, tata bahasa dan hukum.

Khaldun merupakan keturunan dari Hadramaut, Yaman. Kemudian beliau berimigrasi ke Andalusia di bawah pemerintah Dinasti Umayyah yang pada masa itu, peradaban sedang mengalami kemunduran.

Sejarah mencatat jauh sebelum Auguste Comte sebagai Bapak Sosiolog, ada yang lebih patut kita kenal sebagai seorang Muslim. Beliau ialah Ibnu Khaldun, tokoh penting  peradaban Islam abad ke-14.

Dalam dunia modern ia juga masih dikenal sebagai Bapak Sosiolog yang masih menjadi referensi para akademisi dalam menerapkan teori sosiologi.

Ibnu Khaldun memiliki nama lengkap Abu Zaid Abdul Rahman bin Khaldun ibn Waliudin al-Tubisi al-Handrami. Adapun karya yang ternama yaitu kitab Al-Ibar dengan berjilid-jilid. Jilid pertama yang paling populer yaitu ‘Muqaddimah’ dalam dunia barat disebut juga Prolegomena.

Kemasyhuran Ibnu Khaldun dimulai pada abad ke-17. Tetapi orang-orang Eropa mulai menilik karyanya pada abad ke-19. Buku yang dibedah adalah Muqaddimah dan orang pertama yang mengangkatnya adalah Auguste Comte seorang filsuf dari Prancis.

Muqaddimah dan ilmu sosial Ibnu Khaldun

Pada buku Muqaddimah ini pula, Ibnu Khaldun menguraikan makna ilmu sosial. Menurut Philip K Hitti, ia mengakui bahwa Ibnu Khaldun seorang pelopor filsafat sejarah modern:

“Belum pernah ada sebelum dia, baik itu Arab apalagi Eropa yang memiliki pandangan komprehensif dan filosofis mengenai sejarah. Ibnu Khaldun merupakan filsuf-sejarah yang paling brilian yang pernah dihasilkan dunia Islam, dia termasuk yang paling besar sepanjang sejarah.”

Salah satu pemikiran sosial Ibnu Khaldun yakni ‘Ashabiyah’ dalam bahasa mudahnya mengenai solidaritas. Dengan adanya solidaritas atau ashabiyah inilah membuat sekelompok manusia bisa melawan manusia lainnya.

Nilai-nilai solidaritas antar sesama inilah yang menumbuhkan persatuan satu sama lain dalam hal kemajuan suatu kelompok. Namun, hal yang tidak bisa dipungkiri pula jika nilai-nilai ashabiyah tersebut tidak lagi diperhatikan maka akan merusak tatanan kerukunan sosial masyarakat.

Ibnu Khaldun menegaskan bahwa rendahnya nilai ashabiyah ini juga yang menyebabkan peradaban suatu kaum mudah diadu domba oleh orang-orang yang tidak baik. Hal ini jika kita telaah pada kehidupan saat ini, manusia penting memperkuat nilai-nilai solidaritas antar sesama dengan landasan keimanan.

Jika tidak mengandalkan satu visi karena Allah SWT maka tidaklah pada jalan yang benar, agamalah yang mempersatukan umat dengan alasan saudara seagama kita bisa terus mensyiarkan Islam.