Indahnya harmoni sosial dalam bingkai perbedaan

Masyarakat 26 Jan 2021 Tholhah Nuhin
Tholhah Nuhin
Indahnya harmoni sosial dalam bingkai perbedaan
Indahnya harmoni sosial dalam bingkai perbedaan © Paulus Rusyanto | Dreamstime.com

Sebagai makhluk sosial, setiap orang tidak akan pernah hidup dengan dirinya sendiri, tanpa bergantung pada orang lain yang ada di sekitarnya. Seseorang akan selalu butuh dengan yang lain.

Tidak hanya untuk saling bantu dan tolong menolong. Tapi juga untuk membangun komunitas sosial yang saling mendukung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Indahnya harmoni sosial dalam bingkai perbedaan

Kehidupan masyarakat Indonesia yang berasal dari latar belakang yang beragam; suku, budaya, agama, tradisi, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Ini adalah sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dielakkan oleh setiap individu.

Namun, di situlah keindahan sebuah komunitas sosial. Bila mampu merekat berbagai perbedaan itu dan menjadikannya sebagai sarana untuk saling memahami, tepo seliro dan toleransi, yang akhirnya akan melahirkan persatuan dan saling cinta mencintai. Allah SWT berfirmana:

 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

(Quran surah al-Hujuraat, 49:13)

Pada kenyataannya, di tengah masyarakat kita berbagai perbedaan itu kerap menjadi bom waktu dan sumbu pemicu terjadinya konflik horizontal berkepanjangan. Tentu banyak variable penyebab munculnya berbagai konflik.

Konflik yang kerap terjadi dalam masyarakat

Bahkan bisa jadi konflik membara dapat muncul dari sebuah komunitas yang berasal dari latar belakang budaya, ekonomi, suku dan pendidikan yang sama. Konflik seperti ini kerap terjadi pada masyarakat Indonesia yang hidup di pedalaman dan tidak memiliki pendidikan memadai untuk mengkomunikasikan masalah yang terjadi di tengah mereka.

Sehingga bagi mereka bahasa otot jauh lebih efektif untuk menyelesaikan masalah tersebut ketimbang bahasa otak. Situasi seperti di atas mungkin sangat sulit kita temukan terjadi di wilayah perkotaan dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang lebih baik.

Walau perspektif ini tidak berlaku mutlak. Karena kita juga kerap menyaksikan para mahasiswa yang bota bene berasal dari kalangan terdidik. Terkadang juga suka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dengan bahasa otot; tawuran, perkelahian jalanan dan menafikan eksistensi mereka sebagai komunitas terdidik yang layak dijadikan sebagai teladan.

Karena itulah, konflik dapat terjadi di mana saja, pada siapa saja dan komunitas manapun. Tidak peduli apakah ia berasal dari kalangan terpelajar, suku atau agama yang sama.

Setiap orang dapat terlibat dalam arus konflik yang terjadi di hadapannya, atau bersentuhan langsung dengannya. Kecuali mereka yang memiliki pemahaman yang baik, pikiran yang jernih, hati yang lapang dan kendali nafsu yang kuat.