Indonesia Bangkit!

Kehidupan Sanak 16-Jul-2020
Relief sejarah dan kemerdekaan Indonesia di Monumen Nasional, Jakarta © Arief Rahman | Dreamstime.com

Indonesia. Ada yang bilang Zamrud Khatulistiwa. Negeri yang indah dengan sumber daya alam berlimpah. Penduduknya bersahabat dan ramah terhadap semua orang. Sayangnya sifat mulia ini dimanfaatkan oleh penjajah di awal abad 16. Mereka datang kemudian merampas harta benda, hasil bumi, tanah, dan rumah. Tidak ada pilihan selain melawan.

Perjuangan bersenjata turus dilakukan dari griliya hingga perang terbuka. Tak terhitung nyawa melayang dan darah tertumpah. Semuanya hanya demi satu kata, Merdeka. Namun kata itu laksana impian saja, karena penjajah tidak kunjung pergi bahkan datang silih berganti.

Para tokoh terpelajar negeri ini menyadari bahwa kemerdekaan itu adalah legitimasi dari dunia intenasional sehingga butuh diplomasi di meja perundingan. Dari sinilah dimulai babak baru perjuangan melalui jalur politik.

Indische Partij adalah partai politik pertama yang dimiliki oleh Hindia Belanda, nama Indonesia ketika itu setelah berdirinya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908. Didirikan oleh tiga serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung.

Organisasi orang orang Indonesia dan Eropa di Indonesia ini dilatarbelakangi adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi serta diskriminasi khususnya antara keturunan Belanda dengan orang Indonesia.

Tujuan Indische Partij adalah untuk membangunkan patriotisme semua rakyat terhadap tanah air sehingga partai politik ini secara terang-terangan mengkampanyekan Indonesia merdeka. Sarana publikasi melalui majalah Het Tijdschrifc dan surat kabar De Expres pimpinan E.F.E Douwes Dekker. Gerakan partai ini benar-benar revolusioner karena mendobrak isu rasial yang dilakukan pemerintah kolonial.

Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Perancis, dilain pihak Negara itu malah menjajah Hindia Belanda. Hal ironis ini mendatangkan cemoohan dari para pemimpin Indische Partij.

R.M. Suwardi Suryaningrat yang menulis artikel bernada sarkastis yang berjudul Als ik een Nederlander was (Andaikan aku seorang Belanda), menyusul tulisan dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang dimuat dalam De Expres tanggal 26 Juli 1913 yang diberi judul Kracht of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran, kekuatan, dan ketakutan.

Setelah itu, Douwes Dekker mengkritik dalam tulisan di De Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat (Pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat).

Kecaman-kecaman yang menentang pemerintah Belanda menyebabkan ketiga tokoh ini ditangkap dan pemerintah kolonial menyatakan bahwa partai politik ini adalah organisasi yang terlarang dan berbahaya di tahun 1913. Tiga serangkai segera diasingkan ke tempat yang berbeda, sebelum akhirnya mereka bertiga dibuang ke Belanda.

Hilang satu tumbuh seribu. Dibubarkannya Indische Partij membuat gejolak gerakan kemerdekaan semakin menjadi. Ini terbukti dengan berdirilah partai politik lainnya seperti ISDV (Indische Sosial Democratishe Vereniging) pada Mei 1914, Indische Katholike Partij pada November 1918, PKI (Mei 1920), PNI (Juli 1924), Partai Rakyat Indonesia (September 1930), Parindra (Januari 1931), Partai Indonesia (April 1931), Gerindo (Mei 1937) dan Masyumi ketika penjajahan Jepang.

Setelah tiga serangkai dibebaskan, Indische Partij sempat berubah nama menjadi Nationaal Indische Partij (NIP) di tahun 1919. Meskipun usianya tidak lama, Indische Partij di bawah tiga serangkai tetap menjadi organisasi yang tidak terlupakan dalam sejarah bangsa Indonesia.