Ini lima amalan yang pahalanya setara berhaji

Kakbah di Mekkah, Arab Saudi sebelum pandemi © Ahmad Faizal Yahya | Dreamstime.com

Secara geografis, jarak antara Indonesia dengan tanah suci Mekkah, Arab Saudi sangatlah jauh. Dengan lama perjalanan lebih kurang 8 jam jika menggunakan pesawat udara. Namun jarak yang jauh tersebut tidak mampu membendung keinginan yang kuat dari masyarakat Muslim di Indonesia untuk berangkat menunaikan ibadah haji setiap tahunnya.

Tercatat lebih dari 200.000 jemaah haji dari Indonesia yang berangkat menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Dan ada jutaan bakal calon jemaah haji yang sudah mendaftar dan harus bersabar menunggu antrian yang cukup panjang. Rata-rata masa tunggu keberangkatan haji di Indonesia sejak pendaftaran hingga diberangkatkan sekitar 20 tahun. Bahkan, ada antrian terpanjang di Indonesia yakni di Bantaeng Sulawesi Selatan selama 41 tahun. Jika dibandingkan masa antrian jemaah haji Malaysia ada yang mencapai 120 tahun dan Singapura 34 tahun.

Setiap orang berpeluang untuk menunaikan rukun Islam ke-5 ini. Suatu kebahagiaan dan keharuan yang tidak ternilai ketika kita bisa menjejakkan kaki dan menapaktilasi perjalanan kehidupan Baginda Rasulullah SAW di tanah suci Mekkah. Tangis kesyukuran tidak terbendung ketika wajah yang setiap hari menghadap ke Kakbah ketika salat dan sampai masanya  Kakbah itu berada di depan mata.

Untuk itulah segala upaya dan ikhtiar dilakukan oleh banyak orang agar bisa berangkat menunaikan ibadah haji. Banyak kita saksikan orang-orang biasa dengan ekonomi seadanya juga bisa menunaikan ibadah haji. Ada yang bekerja sebagai tukang becak, pedagang sayur di pasar, petani dan bahkan tukang tempel ban sekalipun bisa berangkat menunaikan ibadah haji. Dengan kuasa Allah SWT semuanya menjadi mungkin dan tentunya tidak melupakan ikhtiar dengan bekerja keras dan cerdas.

Pada tahun 2020 ini terjadi kondisi yang menjadikan jutaan calon jemaah haji dari seluruh dunia termasuk Indonesia harus bersabar dan lapang dada menerima kenyataan bahwa keberangkatan mereka harus tertunda satu tahun kedepan. Pandemi virus corona yang belum menunjukkan kondisi membaik menjadi penyebabnya. Untuk Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama telah memutuskan tidak memberangkatkan jemaah haji Indonesia untuk masa ibadah haji tahun 1441 H atau 2020 M.

Keputusan yang sama juga diambil oleh banyak negara, termasuk negara-negara tetangga Indonesia seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Kerajaan Arab Saudi juga sudah mengeluarkan maklumat bahwa pelaksanaan ibadah haji tahun ini hanya diikuti oleh jemaah haji dari warga Arab Saudi atau warga asing yang bermukim di Arab Saudi saja.

Impian untuk bisa bersujud langsung di hadapan Kakbah yang tertunda adalah ujian kesabaran bagi calon jemaah haji. Mari kita sikapi dengan lapang dada dan yakinlah selalu ada hikmah di balik suatu kejadian. Untuk itu mari kita perbanyak amalan-amalan yang menjadikan Allah SWT rida dan semoga dengan amalan tersebut menjadi jalan Allah mudahkan kita untuk menunaikan ibadah haji di tahun berikutnya.

Bagi kita yang memiliki semangat beramal makruf berikut ini ada lima amalan yang apabila kita laksanakan, pahalanya setara dengan ibadah Haji:

Salat lima waktu berjemaah di masjid

Dari Abu Umamah r.a, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berjalan menuju salat wajib berjama’ah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju salat sunah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunah.” (Hadis riwayat Thabrani)

Sementara itu, dalam riwayat lainnya yang disampaikan oleh Imam Abu Dawud juga menyampaikan keutamaan salat wajib secara berjemaah yang bernilai seperti pahala orang berhaji: “Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan keadaan suci guna melaksanakan salat maktubah, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa berkehendak untuk melaksanakan salat sunah Duha, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berumrah.” (HR. Abu Daud/558)

Melakukan salat Isyraq

Cara melakukannya  diawali dengan salat Subuh berjemaah di masjid. Setelah itu berdiam untuk berzikir dan melakukan kegiatan yang manfaat. Ketika matahari setinggi tombak (15 menit setelah matahari terbit) melakukan salat dua rakaat yang disebut salat Isyraq atau salat Duha.

Dalilnya adalah dari hadis dari Abu Umamah r.a, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan salat shubuh dengan berjemaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan salat sunah dua rakaat, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.” (HR. Thabrani)

Menghadiri majelis ilmu di masjid

Dari Abu Umamah r.a, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. Thabrani)

Membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah salat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka salat sebagaimana kami salat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah.

Nabi SAW lantas bersabda, “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir salat sebanyak tiga puluh tiga kali.”

Kami pun berselisih. Sebagian kami bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh empat kali. Aku pun kembali padanya. Nabi SAW bersabda, “Ucapkanlah subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar, sampai tiga puluh tiga kali.” (HR. Bukhari, no. 843)

Berbakti pada orang tua (birrul walidain)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Ada seseorang yang mendatangi Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia sangat ingin pergi berjihad namun tidak mampu. Rasulullah SAW bertanya padanya apakah salah satu dari kedua orang tuanya masih hidup. Ia jawab, ibunya masih hidup. Rasul pun berkata padanya, “Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah dan berjihad.” (HR. Thabrani)

Semoga Allah SWT memudahkan kita mengamalkan amalan di atas. Moga kita pun dimudahkan untuk mengamalkan haji yang sebenarnya.