Investasi online dalam pandangan muamalah Islam

Bisnis 26 Mar 2021 Merry Lestari
Merry Lestari
Investasi online dalam pandangan muamalah Islam
Investasi online dalam pandangan muamalah Islam © Whyframeshot | Dreamstime.com

Investasi pada saat ini menjadi salah satu peluang bisnis yang sedang naik daun, terutama di kalangan muda yang sedang ingin merintis kesuksesannya.

Pada saat ini, investasi yang ditawarkan tak hanya secara langsung, namun orang-orang sudah bisa melakukan investasi secara online melalui berbagai jenis platform maupun web yang menyediakan layanan investasi online.

Investasi adakah diperbolehkan dalam Islam?

Investasi di dalam Islam memang diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Anjuran untuk berinvestasi juga telah tertulis di dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 261:

 “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Berinvestasi yang dimulai dengan sebutir benih menjadi tujuh bulir dan akhirnya menjadi tujuh ratus biji. Al-Quran seperti terlihat memberikan panduan investasi dalam hal ini adalah infaq.

Namun, bagaimana dengan berinvestasi secara online? Bukankah jual beli sesuatu yang tidak nyata kurang dianjurkan dalam muamalah (perdagangan) Islam?

Jenis saham dalam investasi

Investasi di era milenial saat ini sudah tak asing lagi di kehidupan kita. Kini sudah banyak pula masyarakat yang menjadikannya solusi menambah pemasukan secara pasif. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (ICT atau information and communications technology), pada saat ini investor lebih cenderung membeli saham online ketimbang membelinya di Pasar Saham, seperti di Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Apalagi keuntungan yang diperolehi dari membeli saham online sangat menggiurkan. Hanya membeli saham dalam kisaran puluhan juta, pembeli mampu meraup keuntungan berganda dalam waktu relatif singkat.

Investasi merupakan suatu bentuk aktivitas ketika seseorang menempatkan dana pada satu periode tertentu dengan ‘harapan’ penggunaan dana tersebut dapat menghasilkan keuntungan dan/atau peningkatan nilai investasi.

Dalam berinvestasi, orang akan menghadapi kemungkinan untung atau rugi. Peluang untung dan rugi ini bukan lantas kemudian menjadikan aktivitas investasi ini sebagai sesuatu yang dikategorikan maisir (spekulatif) karena peluang itulah maka ada yang dinamakan istilah kerja (kulfah).

Secara garis besar saham dalam investasi itu ada dua jenis, yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock). Dengan membeli kedua jenis saham ini, pihak penjual saham investasi akan memberikan hak kepemilikan bagi si pembeli (investor).

Walaupun pembeli saham preferen dapat mengklaim keuntungan dari pendapatan dan asset perusahaan, namun mereka tidak memiliki hak dalam menentukan kebijakan perusahaan. Jumlah keuntungan (dividen) yang diperoleh adalah tetap.

Investasi online dalam pandangan muamalah Islam

Tidak seperti halnya pembeli saham preferen yang tidak memiliki hak suara dalam menentukan manajemen perusahaan, pembeli saham biasa mempunyai hak suara untuk memilih manajer. Semakin besarnya jumlah saham yang dimiliki seseorang, semakin berpeluang untuk mengendalikan perusahaan.

Dengan memiliki hak suara, maka pemegang saham biasa ini akan dapat mengontrol operasional perusahaan karena pada prinsipnya merekalah pemilik perusahaan yang sesungguhnya.

Dividen yang diperoleh pembeli saham biasa adalah tidak tetap, justru berbanding lurus dengan keuntungan yang diperolehi perusahaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa membeli saham biasa adalah jauh lebih beresiko dibandingkan dengan membeli saham preferen.

Karena jumlah dividen yang diterima pembeli saham preferen adalah tetap, maka para ulama bersepakat bahwa membeli saham preferen adalah haram hukumnya. Bahkan ahli fikih melihat dividen tetap itu sama seperti bunga/riba. Memang antara dividen tetap dengan bunga terdapat perbedaan, tapi ia memiliki kemiripan dengan riba.

Akan tetapi hanya saja dividen tidak dijamin pembayarannya bila perusahaan dalam keadaan rugi, sedangkan bunga harus dibayar tak kira perusahaan mendapat laba atau rugi.

Begitu juga, kalau perusahaan dilikuidir, pemegang saham ini ada kemungkinan tidak mendapat ganti rugi kalau aset yang dijual tidak mencukupi. Meskipun pemegang saham ini mungkin rugi atau untung, tapi sifat alami dividen tetap lebih menyerupai riba.

Prinsip umum investasi syariah

Karena itulah bagi umat muslim, tidak semua jenis investasi memenuhi syariat Islam. Investasi untuk umat Islam harus sesuai prinsip Islam, yaitu menggunakan suatu sistem yang pelaksanaannya berdasarkan hukum Islam (syariah).

Berikut adalah prinsip umum investasi syariah bagi muslim yang ingin berinvestasi baik offline maupun online.

  • Yang pertama, umat muslim tidak boleh berinvestasi pada jenis investasi yang ada Riba atau pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam yang dilakukan secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam. Riba melarang investasi dalam bentuk bunga.
  • Selanjutnya, investasi yang tidak ada Gharar dan Masyir. Karena praktik Gharar dalam perbankan adalah sistem yang tidak terbuka kepada nasabah. Bank Syariah menerapkan sistem yang terbuka, baik pada saat penanaman modal maupun penyaluran dana.