Islam di Malta: Sebuah koneksi yang tak mengenal masa

Eropa Asna Marsono
Asna Marsono
Islam di Malta: Sebuah koneksi yang tak mengenal masa
Islam di Malta: Sebuah koneksi yang tak mengenal masa (foto: Valletta, ibu kota Malta) © Evgeniy Parilov | Dreamstime.com

Islam di Malta memiliki sejarah lebih dari seribu tahun. Negara ini terletak di tengah laut Mediterania, yang berada di selatan Sisilia (Sicily) dan utara benua Afrika. Kepulauan Malta terdiri dari tiga pulau. Pulau-pulau ini bernama Malta, Comino dan Gozo.

Kepulauan Malta dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Oleh karena itu, Malta populer di kalangan pelancong. Kepulauan Malta memiliki banyak situs bersejarah. Meskipun kurang dikenal oleh dunia, namun agama damai kita Islam telah menginjakkan kaki di negara kepulauan kecil ini sangat lama.

Islam di Malta dari Ifriqiya

Islam datang ke Malta pada tahun 870 Masehi sebagai konsekuensi dari konflik antara penguasa dan kaisar. Saat itu, Malta diperintah oleh Euphemius. Beliau adalah seorang laksamana dan penguasa di bawah kaisar besar Bizantium, Michael II. Euphemius dituduh menculik dan menikahi biarawati muda dari biara. Saat itu, Gubernur Sisilia adalah seorang laksamana bernama Constantine. Kaisar Bizantium memerintahkan Constantine untuk menangkap Euphemius dan menggagalkan pernikahannya.

Namun, Euphemius berhasil mengalahkan Constantine dan mengorganisir pemberontakan melawan Kaisar Bizantia Michael II. Tapi beliau mengerti, di depan tentara besar Bizantian, pemberontakannya tidak lain hanyalah butiran debu.

Khawatir, ia memohon kepada para pemimpin Muslim Ifriqiya (Terdiri dari Tunisia saat ini, Libya Barat dan Aljazair Timur). Beliau menandatangani kesepakatan bahwa penguasa Muslim akan membantunya untuk mengambil Sisilia dan Malta dari kaisar. Sebagai imbalannya, ia akan mendukung penyebaran Islam di daerah-daerah tersebut.

Ifriqiya saat itu diperintah oleh Aghlabids. Mereka adalah Emirate semi-independen. Emir waktu itu adalah Ziyadat Allah I yang menerima permohonan tersebut. Beliau kemudian menganugerahkan penaklukan kepada Qadi yang berusia 70 tahun, Asad bin Al-Furat. Orang ini sangat dihormati di emirat.

Kemudian Aghlabids menghubungi Emirat Umayyah Cordoba. Bersama-sama, Aghlabids dan Umayyah menaklukkan Sisilia dan Malta. Dengan demikian dominasi Islam selama dua abad di kepulauan Malta dimulai.

Norman di Malta

Malta secara eksklusif merupakan negara Islami yang menggunakan Bahasa Arab sebagai Bahasa resmi dari 870 hingga 1091 Masehi. Kemudian penaklukan Norman terjadi. Bahkan, setelah itu masyarakat Islam yang signifikan tetap berada di negara bagian. Normani mengizinkan umat Islam untuk mempraktikkan agama mereka dengan bebas.

Mereka tidak pernah memaksa siapa pun untuk murtad. Pada masa pemerintahan Raja Roger II, Malta menjadi negara dengan toleransi multi etnis dan agama. Para penguasa Norman lebih toleran dan layak daripada era Kristen yang melakukan ‘de-arabisasi’ besar-besaran.

Ibnu Athir menulis,

“Mereka (kaum Muslim) diperlakukan dengan baik, dan mereka dilindungi, bahkan terhadap Para Frank. Karena itu, mereka memiliki cinta yang besar untuk Raja Roger.”

Namun, pada tahun 1224, Raja Fredrick II mengusir semua Muslim dari negara kepulauan itu. Dikatakan pemberontakan agama yang parah adalah alasannya. Muslim yang dibuang telah pergi dan membangun koloni di Lucera, Italia.

Ottoman di Malta

Pada abad ke-16, Ottoman mencoba untuk merebut kembali Malta dari Templar Kesatria Kristen. Pada tahun 1522, Sultan Suleyman mengepung Rhodes. Pengepungan berlangsung selama enam bulan sampai para kesatria kelaparan dan menyerah. Sultan mengizinkan mereka untuk pergi dengan senjata mereka, bahkan menyediakan kapal untuk mereka.

Di bawah kekuasaan cucu Ferdinand dari Aragon dan Isabella dari Castille, Malta menjadi bagian dari Kekaisaran Spanyol. Kaisar Spanyol memberikan para kesatria daerah Malta sebagai rumah mereka setelah mereka diusir dari Rhodes. Kesatria ini kemudian disebut Kesatria Malta.

Pada tahun 1565, Suleyman kembali mengirim sekitar 200 kapal dan pasukan 48000 untuk menyerang pulau itu. Tapi setelah empat bulan, pasukan itu dikalahkan. Para kesatria berjuang dengan berani untuk mengamankan rumah mereka.

Mujahid India di Malta

India memperoleh kemerdekaannya pada Agustus 1947. Perjuangan panjang melibatkan semua orang dari negara ini, termasuk komunitas Islam. Para Ulama dan Mujahid India memainkan peran penting dalam kemerdekaan ini. Bahkan, pemberontakan besar atau Pemberontakan Sepoy tahun 1857 diprakarsai oleh ulama.

Dua puluh tahun setelah pemberontakan ini, Shyakhul Hind Maulana Mahmood Hasan membentuk ‘Samratut Tarbiyat’ pada tahun 1877. Organisasi ini berjuang melawan Inggris selama lebih dari tiga dekade.

Gerakan ini ditetapkan untuk membebaskan India dari Inggris dengan bantuan Turki dan Afghanistan. Setelah Inggris mengetahui hal ini pada tahun 1916, 200 ulama ditangkap. Mereka kemudian dikirim ke Malta. Malta, pada saat itu, merupakan sebuah kamp penjara pulau untuk Inggris.

Islam saat ini di Malta

Islam di Malta adalah agama minoritas sekarang. Namun, warisan abadi Islam tidak dapat ditolak. Banyak peninggalan di Malta yang merupakan sisa dari peradaban Muslim yang dulu berjaya. Bahasa Malta berasal dari bahasa Arab. Bahasa Arab memberi Bahasa Malta struktur linguistik dasar dan 50% kosakata.

Beberapa ahli bahasa menganggap Bahasa Malta sebagai Dialek Arab. Misalnya, kata Tuhan di Malta adalah Alla. Terbukti bahwa itu berasal dari kata Arab Allah. Demikian pula, kata Jiwa adalah Ruh. Angka-angka dalam Bahasa Malta juga jelas menunjukkan dialek Arab, seperti:

  • Wiehed (dari kata wahid)
  • Tnejn (dari kata itsnain)
  • Tlieta (dari kata tsalatsa)
  • Erbgha (dari kata arba’a)

Saat ini ada satu masjid resmi di Malta, Masjid Mariam al-Batool yang berada di Paola. Masjid ini melayani sekitar 4000 Muslim di negara kepulauan ini.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.