Isra dan Mikraj, sebuah perjalanan mukjizat

Masjid al-Aqsa © Fatema7864 | Dreamstime.com

Salah satu mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW adalah pelayaran malam yang dikenal sebagai Isra dan Mikraj.

Tahun-tahun berikutnya yang dipenuhi dengan kesedihan yang pahit, di mana Nabi SAW melihat hilangnya istri tercintanya Saidatina Khadijah r.a. dan paman tercintanya Abu Thalib, peristiwa luar biasa ini terjadi pada 27 Rejab sebelum migrasi Nabi ke Madinah.

Malaikat Jibrail a.s. dikirim oleh Allah SWT untuk mengangkat Utusan Allah dari kota Mekah ke Masjid Al-Aqsa di Baitulmaqdis, Yerusalem. Ini mencakup jarak 1.200 km selesai dalam satu malam. Tahap pertama perjalanan Rasulullah SAW ini disebut Isra (Isra ‘).

Allah SWT berfirman dalam kitab suci Al-Quran:

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(Surah al-Isra’17, ayat 1)

Selama perjalanannya, Rasulullah SAW naik kendaraan Buraq, makhluk berbentuk keledai yang bergerak tangkas dalam sekejap mata. Sesampainya di Masjid Al-Aqsa, Nabi bertemu para nabi yang telah diutus untuk mengabarkan risalah Allah SWT. Kemudian, Baginda  juga turut mengimamkan salat jemaah bersama mereka.

Setelah salat, sesuatu yang luar biasa terjadi. Malaikat Jibrail a.s. mempersembahkan dua gelas kepada Rasulullah SAW, satu berisi susu, dan satu berisi arak. Nabi memilih cangkir berisi susu dan meminumnya. Malaikat Jibrail memberi tahu Baginda bahwa jika dia memilih secangkir arak, maka rakyatnya akan tersesat.

Peristiwa itu bernama Mikraj. Rasulullah SAW naik ke tujuh lapisan surga. Di sana Baginda bertemu Nabi Adam a.s., Nabi Isa a.s., Nabi Yahya a.s., Nabi Idris a.s., Nabi Harun a.s., Nabi Musa a.s. dan Nabi Ibrahim a.s.

Akhirnya, Rasulullah SAW mencapai Sidratul Muntaha, lapisan tertinggi dari tujuh langit dan lapisan terakhir dari Surga. Hanya Rasulullah yang diizinkan melintasi perbatasan ini.

Allah SWT memberkati Rasulullah SAW  dengan kehadiran Baginda. Allah menganugerahkan Rasulullah dengan ibadah salat 50 kali sehari. Segera setelah menerima perintah ini, Rasullulah siap untuk kembali ke dunia.

Selama perjalanannya, Rasulullah SAW memberi tahu Nabi Musa a.s. tentang perintah Allah SWT untuk melakukan salat 50 kali sehari. Dalam mempertimbangkan situasi umat Islam, Nabi Musa meminta Rasulullah untuk memohon kepada Allah agar mengurangi jumlah salat. Nabi pulang dengan perintah 40 salat sehari. Nabi Musa memanggil Rasullullah lagi untuk meminta kepada Allah agar mengurangi jumlah salat. Nabi didorong oleh Musa untuk memohon kepada Allah sampai jumlah salat dikurangi menjadi 5 kali sehari.

Rasulullah SAW akhirnya kembali ke dunia dengan naik Buraq, juga dengan hadiah salat 5 kali sehari untuk umat Islam.

Pelayaran malam ini memiliki makna mendalam bagi umat Islam. Dalam peristiwa Isra dan Mikraj, Allah SWT memberi karunia kepada Rasulullah SAW berupa jalan bagi umat Islam untuk bertobat dari dosa-dosa kita lima kali sehari.

Umat ​​Muslim seharusnya tidak melupakan pentingnya doa dalam kehidupan kita. Dengan salat lima waktu sehari, kita bisa mendekat kepada Allah SWT dan selalu mencari pengampunan-Nya.