Istikamah dalam kehidupan Islam

Islam untuk Pemula Tholhah Nuhin 31-Okt-2020
dreamstime_s_137660786
Istikamah dalam kehidupan Islam © Marcos Calvo Mesa | Dreamstime.com

Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad SAW rasulnya, ia harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai tersebut baik dalam kondisi aman maupun terancam.

Namun, dalam realitas kehidupan dan fenomena umat, kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu mengimplementasikan dalam seluruh kisi-kisi kehidupannya.

Dan orang yang mampu mengimplementasikannya belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitmen dan istikamah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya.

Penyimpangan atau melampaui batas

Istikamah adalah anonim dari thughyan (Penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istikamah dari kata ‘Qooma’ yang berarti ‘Berdiri’.

Maka secara etimologi, istikamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istikamah diartikan sebagai ‘Sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen’. Secara terminologi, istikamah bisa diartikan dengan beberpa pengertian berikut ini;

  • Abu Bakar As-Shiddiq r.a ketika ditanya tentang istikamah, ia menjawab bahwa “Istikamah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah SWT dengan apa dan siapapun)”
  • Umar bin Khattab r.a: “Istikamah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”
  • Utsman bin Affan r.a: “Istikamah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah SWT”
  • Ali bin Abu Thalib r.a: “Istikamah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”
  • Al-Hasan r.a: “Istikamah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan”
  • Mujahid r.a: “Istikamah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah SWT”
  • Ibnu Taimiah r.a: “Mereka beristikamah dalam mencintai dan beribadah kepada-Nya tanpa menengok kiri kanan”

Istikamah dalam sepanjang jalan kehidupan

Jadi, muslim yang beristikamah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya. Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti.

Tidak mudah loyo atau mengalami degredasi dalam perjalanan hidupnya. Senantiasa sabar dalam memegang teguh tali keimanan. Dari hari ke hari semakin mempesona dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam.

Ia senantiasa menebar pesona Islam baik dalam ruang kepribadiannya, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Itulah cahaya yang selalu menjadi pelita kehidupan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istikamah dalam sepanjang jalan kehidupan.