Istikamah kita dan keberlangsungan hidup

Kehidupan Komiruddin 24-Agu-2020
Kita dan keberlangsungan © Vinh Dao | Dreamstime.com

Istikamah dalam mengerjakan kebaikan walau sedikit adalah amalan yang dicintai Nabi Muhammad SAW. “Sebaik baiknya perbuatan adalah yang terus menerus, walaupun sedikit.” Begitu sabda Rasulullah.

Tapi istikamah ini bukan hal yang mudah. Tidak sembarang orang yang mampu melakukannya.  Ada banyak rintangan yang harus dihadapi dan disingkirkan, seperti malas,  jenuh, bosan dan lingkungan yang buruk.

Sebab itu, untuk tetap istikamah maka salah satu cara yang bisa dilakukan  adalah dengan mencari partner yang se-ide dan memiliki keinginan yang sama.

Sebagai contoh, untuk tetap terus menghapal Al-Quran seseorang harus mempunyai partner yang sama sama berkeinginan menghapal. Lalu membuat komitmen-komitmen yang disepakati.

Dalam salah satu diskusi, yang saya pernah ikuti ada salah seorang peserta menceritakan pengalaman pribadinya. Bahwa dia berkunjung ke salah seorang temannya di suatu kos kosan yang satu kamar ditempati dua orang.

Dua orang ini membangun komitmen dan kesepakatan bersama,  di mana mereka berdua jika berada di kamar wajib berbahasa Inggris. Dan bila ingin berbahasa lain karena tidak tahu bahasa Inggrisnya, maka harus keluar kamar dan mencarinya di kamus. Alhasil dengan membangun komitmen tersebut mereka berdua akhirnya mahir berbahasa Inggris.

Begitulah istikamah, akan bisa dilakukan bila ada kebersamaan,  ada komitmen dan ada lingkungan yang kondusif. Kebersamaan dalam keinginan, komitmen dalam menjalankan program dan lingkungan yang mendukung terlaksananya program tersebut.

Dari sini kita dapat memahami mengapa Allah SWT memerintah kita untuk membangun istikamah bersama sama dengan kaum Muslimin yang mengikuti.

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Quran surah Hud 11, ayat 112)

Atau memerintahkan kita bersabar bersama sama dengan orang yang mengharap rida Allah SWT. “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya.” (Quran surah al-Kahf 18, ayat 28)

Atau memerintahkan rukuk dalam hal ini salat bersama orang-orang yang biasa rukuk. “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (Quran surah al-Baqarah, ayat 43)

Karena membangun kebersamaan dalam setiap komitmen kebaikan akan lebih dapat menjamin kebertahanan dan keberlangsungan suatu cita-cita.