Jadilah orang baik, ia adalah pilihan

Iman Roni Haldi Alimi 25-Okt-2020
dreamstime_s_176046933
Jadilah orang baik, ia adalah pilihan © Heru Anggara | Dreamstime.com

Dalam hidup yang penuh pancaroba kadang baik buruk datang berganti tak sejalan sulit disatukan. Baik di satu sisi, buruk di sisi yang lain. Makanya, sebahagian ulama menyebut dengan istilah as-shira’ baina al-haq wa al-bathil; pertentangan antara kebaikan dan keburukan. Artikel ‘Jadilah orang baik, ia adalah pilihan’ akan melihat kepada pilihan ini.

Menjadi orang baik adalah pilihan

Menjadi orang baik dan masuk bergabung dalam kumpulan orang yang baik adalah pilihan, begitu juga sebaliknya dengan keburukan. Atas kesadaran yang lahir dari kepahaman seseorang telah memilih menetapkan jalan hidup yang akan ditempuhnya.

Jangan jauh, tengok saja ke belakang kisah ayah manusia seluruhnya; Nabi Adam a.s dan Hawa a.s,istrinya. Telah dijelaskan kebaikan kepada mereka begitu juga halnya dengan keburukan. Tak lupa pula Allah SWT sampaikan akibat yang akan berlaku atas mereka tanggung jika pelanggaran telah terjadi nyata.

Dengan tak menampik peran iblis yang besar mempengaruhi nafsu kedua orang tua manusia. Namun pilihan mereka berdualah yang mengakibatkan uqubat (hukuman) dijatuhkan. Tak hanya bagi mereka berdua, iblis pun tak luput dari ganjaran kebusukan keburukannya.

Tengok juga pada Firaun, Qarun dan Hamman. Pilihan jalan keburukan penuh pembangkangan terhadap perintah Allah SWT telah mereka pilih dengan sadar. Setelah datang kepada mereka dua bersaudara yang ditugaskan sebagai utusan resmi dari langit.

Tak cukup dengan ajakan, mukjizat pun telah Allah SWT perlihatkan. Namun kembali pilihan tetap dalam jalan keburukan ternyata telah mantap diproklamirkan. Penenggelaman di perut bumi dan di tengah lautan mereka jalani sebagai balasan pembuktian salahnya pilihan keburukan mereka.

Nasehat agar menjadi orang baik

Sungguh, menjadi orang baik atau sebalik adalah peran pilihan kita sendiri. Pada suatu hari Syeikh Ali Saleh Al-Azhari menasehati seorang pria dengan mengatakan :

“Ketahuilah anakku, bahwa perbedaan antara manusia dan hewan adalah berbuat baik, jika Anda ingin disebut manusia, maka jadilah orang yang baik.”

Terkadang menyamakan sesuatu dengan sesuatu acapkali terlontar di mulut dalam keseharian kita. Sebagai contoh katakanlah seperti kalimat; kamu babi, kalian semua anjing, setan semuanya. Kalimat bertulisan dan berkonotasi buruk itu sering terdengar terlontar keluar tatkala emosi menguasai diri seseorang.

Sangking marahnya karena ulah polah seseorang, susunan kalimat itu muncul seketika terkadang tanpa terfikir apalagi direncana sebelumnya. Yang jelas ucapan itu adalah keburukan yang tak semestinya terujar keluar.

Namun nasehat salah seorang Masyayikh Al-Azhar itu bukanlah bermaksud dan berkonotasi buruk menyamakan manusia dengan hewan. Nasehat berharga kepada muridnya agar memilih kebaikan yang membawa kemuliaan jauh dari karakter kehewanan. Jika kebaikan ada dalam karakter seseorang disitulah letak sisi kemanusiaannya manusia. Pilihlah pilihan untuk berbuat baik agar kita tak disebut bukan manusia.

Jadilah orang yang baik, karena orang yang baik itu adalah orang yang sukses. Orang yang sukses itu selalu mencari kesempatan membantu sesama, sedangkan orang gagal selalu bertanya apa untungnya membantu orang lain.