Jalan pertaubatan Ka’ab bin Malik r.a

Kepercayaan Sanak 26-Agu-2020
Jalan pertaubatan Ka'ab bin Malik r.a © Michal Balada | Dreamstime.com

Ka’ab bin Malik radiyallahu ‘anhu termasuk dari jajaran sahabat Rasulullah SAW yang utama. Keistimewaan ini sedikit tercoreng karena ketidakikutsertaannya dalam Perang Tabuk, perang terakhir yang diikuti Nabi Muhammad SAW. Kelalaiannya berbuah petaka, Allah SWT dan Rasul-Nya murka.

Sekembalinya Rasulullah SAW dari perang tabuk, Ka’ab bin Malik r.a bersegera menemui beliau untuk mengungkapkan penyesalan atas kealpaan. Ia lebih memilih berkata jujur, tidak seperti orang-orang munafik yang mengarang cerita dan mengemukan alasan-alasan bualan. Namun minta maaf saja tidaklah cukup, seperti yang dikatakan Nabi Muhammad, Allah SWT yang akan memutuskan perkaranya.

Hari itu, hukuman dimulai. Ka’ab bin Malik r.a dikucilkan di kota Madinah. Tidak satu orang pun yang diperbolehkan berkomunikasi dengannya. Tidak ada lagi sapaan hangat dan senyum manis. Orang-orang akan diam begitu dia datang. Salamnya tidak dijawab, panggilannya tidak disahut, omongannya tak didengar. Bumi menjadi sepi.

Hari menjadi minggu, hukuman itu belum juga berlalu. Minggu telah menjadi bulan, selama itu pula telah tumpah air mata penyesalan. Puncaknya di hari keempat puluh, Rasulullah menyuruh istrinya untuk meninggalkan rumah. Dia betul-betul sendiri dan hanya keampunan Allah SWT yang dinanti.

Saat subuh di hari kelima puluh, firman Allah SWT turun yang menandakan diterimanya taubat Ka’ab bin Malik r.a dengan dua orang sahabat lain yang melakukan kesalahan sama.

“Sesungguhnya Allah SWT telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam kesulitan setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka.

Sesungguhnya Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka terhadap tiga orang yang ditangguhkan penerimaan taubatnya hingga bila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun terasa sempit serta mereka telah mengetahui bahwasanya tak ada tempat untuk berlindung dari siksa Allah melainkan kepada-Nya. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.

Sesungguhnya Allahlah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (Quran surah at-Taubah 9: 117-119)

Para sahabat saling berlomba-lomba untuk menjadi orang pertama yang menyampaikan kabar gembira ini kepada Ka’ab bin Malik r.a. Kebahagian seorang Muslim adalah kebahagian bagi Muslim yang lain dan kesedihan seorang Muslim akan menjadi kesedihan bagi saudaranya sesama Muslim. Lima puluh hari dalam kegalauan, berujung dengan kebahagian.