Buletin SalamWebToday
Sign up to get weekly SalamWebToday articles!
Mohon maaf, kesalahan terjadi karena alasan:
Dengan berlangganan, anda menyetujui Persyaratan dan Kebijakan Privasi SalamWeb
 Seni Buletin

Jangan tunda tobat

Islam 11 Jan 2021
Roni Haldi Alimi
Jangan tunda tobat
Jangan tunda tobat © Hikrcn | Dreamstime.com

“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat sesudah itu dan beriman;sesungguhnya Tuhan kamu sesudah tobat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Begitulah kasih sayang Allah SWT dalam surat al-’Araf, ayat 153 terhadap yang yakin menempuh jalan kebaikan berupa tobat.

Apakah makna tobat?

Tobat adalah kembali dari kondisi hati dan diri jauh dari Allah subhanahu wa ta’ala menuju kedekatan kepada-Nya. Pengakuan diri atas dosa, lalu menyesal dan bertekad berhenti tidak mengulanginya kembali pada masa yang akan datang. Disertai memulai kebaikan dalam hari-hari kehidupan.

Penyesalan lahir murni dari sebuah kesadaran, bukan paksaan ataupun dipaksakan. Pandangan terhadap dosa berupa beban berat yang mengimpit dan menimpa diri lahir bukan dari keegoan membatu.

Keegoan yang memandang ringan lagi kecil sebuah dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Mas’ud dalam Sahih Bukhari dan Muslim:

“Seorang mukmin memandang dosanya bagaikan gunung yang akan runtuh menimpa dirinya, sedangkan seorang pendosa menganggap dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, cukup diusir dengan tangannya.”

Itulah yang terjadi tatkala sepuluh saudara Nabi Yusuf a.s seayah lagi serumah mengetahui pasti bahwa petinggi kerajaan yang berdiri gagah adalah saudara mereka, Yusuf. Tak ada lagi kesempatan – apalagi alasan bohong – menyokong kesalahan dosa yang mereka perbuat.

Tak mungkin lagi berpikir mencari jalan lain bahkan merencanakan makar jahat. Mengelak dari tanggung jawab itu mudah, namun kita takkan mampu menghindar dari akibat perbuatan itu.

“Mereka berkata, “Wahai Ayah kami! Mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).”

(Surah Yusuf, 12:97)

Jangan tunda tobat

Tobat berangkat dari kesadaran total akan kelalaian kesalahan diri, baik tak disengaja apalagi disengaja. Sepuluh bersaudara itu sangat paham, dosa yang mereka perbuat utamanya bukan kepada Allah SWT saja. Dosa berulang dan diulang mereka terhadap ayahanda tercinta, Nabi Ya’qub ‘alaihis-salam dan adiknya Yusuf a.s.

Merasai ringan lagi kecil dosa yang dilakukan akan menyulitkan hati dan diri untuk melangkah ke kondisi tobat. Saat yang tepat dirasa telah hadir, tatkala berhenti dari mengikuti nafsu jahat beralih diri ke masa tobat.

Seluruh anggota keluarga berkumpul bersama. Nabi Yusuf a.s yang dulu dianiaya ada dihadapan, sedang Nabi Ya’qub a.s ayah mereka yang dibohongi dan dikhianati juga hadir. Klarifikasi telah usai menyelesaikan. Kemaafan pun telah diucapkan dan didengar.

Jangan tunda lagi saat untuk bertobat. Kesempatan baik telah hadir. Menunda amal kebaikan karena menanti kesempatan lebih baik merupakan suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa. Imam Ibnu ‘Athaillah mengingatkan hal ini dalam kitab al-Hikam, ‘Menunda amal saat ada waktu luang itu pertanda terpedaya hawa nafsu’.

Maka, janganlah kita menunda-nunda amal kepada masa tak pasti.Kita tidak mengetahui apakah akan mendapatkan kesempatan itu atau justru kita akan dijemput oleh maut yang setiap saat selalu menanti?

Kesempatan yang dirasa baik tak mampu diprediksi kehadirannya. Pada saat seseorang menunda tobat, saat yang sama pula telah ada kepastian ajal menjemputnya. Menunda tobat mungkin mampu dilakukan, namun menunda kematian? Pasti tak mampu dilakukan.

Takutlah seandainya kematian datang menghampiri, diri ini masih berbalut kotoran dosa. Tobat janganlah ditunda-tunda.