Jauhi mufakat yang berangkat dari hitamnya hasad

Iman Roni Haldi Alimi 11-Nov-2020
dreamstime_s_36639215
Jauhi mufakat yang berangkat dari hitamnya hasad © Antonio Guillem | Dreamstime.com

Adil itu ada kalanya rumit. Terlebih ada kondisi objektif yang membuat suatu perbuatan tampak tidak adil justru sebenarnya terlihat wajar, pantas, dan manusiawi. Tak heran bila seorang nabi ternyata juga bisa merasakan sulitnya bertindak adil.

Setidaknya, begitulah perasaan yang sempat dihadapi Nabi Ya’qub a.s tatkala dianggap (lebih) mengistimewakan Nabi Yusuf a.s. Yang komplain atas sikap Ya’qub justru anak-anaknya sendiri.

Mufakat jahat atas dasar sepihak

Sejak kecil Nabi Yusuf a.s ditinggal ibu, kasih sayang penuh berpindah ke sang ayah. Namun, rumah yang didirikan dengan kebaikan itu tak sepi dari hasad dengki. Kumpulan penilaian sepihak oleh sebelas bintang, matahari, dan bulan telah sah jatuh pada Ya’qub a.s —ayah mereka sendiri.

“Ketika mereka berkata: Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata.”

(Surah Yusuf, 12:8)

Dr. Fuad al-Aris membenarkan dalam karyanya, Pelajaran Hidup Surat Yusuf, ‘Sikap manusia terbentuk dari beberapa tahapan pembentukan. Awalnya melihat dan mencermati dari apa yang tampak di ujung mata. Disimpan dalam ingatan dijadikan bukti, berikutnya pengawasan penuh dilancarkan agar mencapai tujuan akhir berupa kesimpulan mendatang atau keyakinan’.

Kesimpulan sepihak dijadikan landasan keyakinan. Api cemburu nyata gelapkan hati mereka, dengki dibalut hasad menjelma. Merasa diri hebat dengan adanya sokongan musuh manusia (setan) lewat hembusan bisikan durjana. Ibarat di atas angin, sepuluh saudara Yusuf a.s seayah lagi serumah adakan mufakat.

Mufakat jahat dilangsungkan atas dasar kesimpulan meyakinkan sepihak. Objek yang akan disingkirkan terang benderang, tidak jauh lagi tak berdaya. Otak diputar agar muslihat berjaya.

Jauhi mufakat yang berangkat dari hitamnya hasad

Mufakat jahat alot berlangsung supaya tiada celah dan cela. Kecemburuan hanya pada Yusuf a.s, bukan pada ayahnya. Cela tak boleh terlihat oleh orang yang mereka cintai lagi segani.

Dialog pun mengalir, hingga akhirnya api benci membakar sanubari salah seorang peserta musyawarah. “Bunuh saja Yusuf! Kalau tidak,maka buang jauh saja!” Sungguh, tipu daya setan telah meraja. Usul itu mencerminkan kekerdilan dan ketakutan diri seseorang yang menasbihkan dirinya kuat lagi kokoh.

“Bunuhlah Yusuf atau buanglah ia ke suatu tempat agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik.”

(Surah Yusuf, 12:9)

Mufakat busuk terus berlanjut. Salah seorang dari mereka rupanya masih mengingat jati diri dan misi mufakat, lantas berujar dengan kalimat persuasif. “Jangan bunuh Yusuf! Tapi masukkan saja ia ke dasar sumur agar dipungut oleh siapa saja musafir lewat, jika kalian hendak melakukannya.”

“Seorang di antara mereka berkata: Janganlah kamu membunuh Yusuf tapi masukkan saja ia ke dasar sumur agar ia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.”

(Surah Yusuf, 12:10)

Mufakat jahat berlanjut. Terus berlanjut karena hati tak kunjung diobati. Cemburu dibalut hasad sampai di ubun-ubun menguasai sepuluh bersaudara seayah lagi serumah. Ketika dosa hasad dirasa sepele, sepakat jahat mudah dilakukan.

Sebab dialog mereka batasi sesama penghasad, ajakan berpikir tak dihiraukan. Sepakat mufakat jahat tetap dijatuhkan atas saudara seayah lagi serumah. Jauhilah mufakat yang berangkat dari hitamnya hasad, karena akan menyeret diri dalam lingkaran jahat mufakat.