Jiwa-jiwa merdeka

dreamstime_s_89287188
Jiwa-jiwa merdeka © Gwmb2013 | Dreamstime.com

Hidup merdeka adalah nikmat yang tak terhingga. Ia hidup yang jauh dari kungkungan pemikiran dan tekanan perasaan. Ia akan merasakan ketenangan dan kebahagian walau raga dibelenggu dan jasad dipenjara.

Inilah jiwa-jiwa merdeka

Inilah Nabi Yusuf a.s. Ia lebih memilih lembabnya lantai penjara dari pada ia harus diharus terus menerus dihantui ajakan selingkuh oleh ibu angkatnya. Padahal sebelumnya ia hidup berkecukupan di istana.

“Yusuf berkata: Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”

(Surah Yusuf, 12:33)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berujar saat menjelaskan nikmat hidup merdeka walau raga di jeruji besi: “Apa yang akan dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Aku, surga dan kebunku dalam dadaku. Ke mana pun aku pergi, ia selalu bersamaku. Jika aku dipenjara, maka ia bagiku khalwat (bersendirian dengan Allah). Jika aku terbunuh, maka ia bagiku kesyahidan. Bila aku diusir dari negeriku, maka bagiku ia adalah wisata”.

Ketika tekanan di dalam semakin kuat, jiwa-jiwa yang merdeka bukan berarti diam. Dia harus tetap bergerak dan bergerak.

Peristiwa hijrah mengajarkan pada kita, bahwa jika kebebasan menjalankan syariat dibatasi bahkan dihalang-halangi, maka hijrah adalah solusinya. Mereka yang merdeka tak pernah takut kehilangan dunia.

Inilah Shuhaib ar-Rumi seorang sahabat yang konon memiliki lapan kali lipat kekayaan, orang terkaya dari kafir Quraisy.

Di tengah perjalanan hijrahnya ia dihadang sepasukan kafir Quraisy. Ia berkata dengan lantang, “Kalian tahu, aku adalah ksatria yang paling mahir memanah. Jika diberikan kepadaku 10 busur panah, maka 10 busur itu akan mengenai sasaran. Tapi aku tawarkan kepada kalian, ambillah harta yang aku tinggalkan dan lepaskan aku.”

Mereka pun melepaskan Shuhaib. Dan di Madinah ia disambut Rasulullah SAW dengan perkataan “Rabihat attijarah/ beruntunglah perniagaan mu wahai Shuhaib.” Shuhaib berkata, “Perkataan ini lebih aku sukai dari dunia dan seisinya.”

Tak terbelenggu kata-kata sakti, tak pernah takut ancaman

Jiwa-jiwa jiwa yang merdeka tak hendak terbelenggu kata-kata sakti dan doktrin-doktren tanpa nalar, bahwa agama nenek moyang mereka lebih baik dari agama baru yang dibawa Muhammad SAW.

Mereka membuka telinga, membuka mata dan akal fikiran yang selama ini ditutupi kabut kekufuran. Mereka mendengar, walau hal itu terlarang. Jiwa-jiwa merdeka tak pernah takut ancaman.

Bagi mereka ancaman adalah bukti kekerdilan sang pengancam. Perhatikan apa yang dikatakan tukang sihir Firaun yang baru saja beriman kepada risalah yang dibawa Nabi Musa as. Dengan lantang mereka mengatakan:

“Mereka berkata: Tidak ada kemudharatan (bagi kami); sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

(Surah ash-Shu’ara, 26:50)

Sebelumnya Firaun marah dan mengancam.

“Firaun berkata: Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu); sesungguhnya aku akan memotong tanganmu dan kakimu dengan bersilangan dan aku akan menyalibmu semuanya.”

(Surah ash-Shu’ara, 26:49)

Demikianlah jiwa-jiwa yang merdeka, akan selalu menapaki alam ruhani yang memberikan ruang yang lapang dan ketenangan yang mendalam. Tanpa ada yang harus ditakuti selain Allah Yang Maha Rahman.