Ka’ab r.a si penyajak: dari penghina ke pemuja Nabi Muhammad SAW

Islam 01 Des 2020 Muhammad Walidin
Pilihan
Ka'ab r.a si penyajak: dari penghina ke pemuja Nabi Muhammad SAW
Ka'ab r.a si penyajak: dari penghina ke pemuja Nabi Muhammad SAW © Emma T. | Dreamstime.com

‘Ka’ab r.a si penyajak: dari penghina ke pemuja Nabi Muhammad SAW’ – sejarawan sastra tidak mengetahui tahun kelahiran Ka’ab bin Zuhair r.a, namun mereka mencatat tahun kematiannya, yaitu tahun 26 Hijriah/645 Masehi. Ia hidup di Nejed (Arabia Tengah) dan disebut sebagai penyair Mukhadram atau ‘Penyair dua masa’.

Ka’ab bin Zuhair r.a merupakan penyair besar pra-Islam yang tersiram hidayah pasca Fathu Makkah.

Ka’ab r.a si penyajak: dari penghina ke pemuja Nabi Muhammad SAW

Ka’ab bin Zuhair r.a lahir dan dibesarkan di lingkungan penyair. Ibunya bernama Kabsyah al-Suhaimiyah. Ayahnya adalah penyair Hauliyat bernama Zuhair bin Abi Salma. Adiknya Bujair adalah seorang penyair. Khutai’h, saudara angkatnya adalah penyair. Anaknya Uqbah dan cucunya juga merupakan penyair.

Tumbuh di lingkungan bani Gatfan yang puitis telah membentuk dirinya menyukai puisi sejak kecil. Ka’ab r.a mencoba menyusun puisi dengan segala usaha dan perjuangan. Namun ayahnya dilanda rasa khawatir bahwa puisi-puisi itu masih terlalu muda sehingga mungkin belum terlalu indah dan bisa merusak reputasi keluarga. Ia pernah dipukul ayahnya agar tidak mengucapkan puisi terlebih dahulu. Namun, ia bandel dan terus merapalkan puisi karyanya.

Kekhawatiran Zuhair membuatnya mengirim Ka’ab r.a kecil ke padang pasir untuk memperhalus selera puisinya. Ia berharap Ka’ab terus menyempurnakan lidah dan mempersiapkan puisinya dengan lebih serius hingga kelak menjadi penyair yang cakap dan terkenal.

Diriwayatkan bahwa Ka’ab bin Zuhair r.a pernah menyinggung Rasulullah SAW dalam salah satu puisinya karena keputusan adiknya Bujair untuk masuk Islam. Ia mengatakan bahwa Rasul adalah al-Ma’mun dan  telah mencekoki adiknya Bujair sehingga melupakan agama nenek moyangnya. Rasul tersinggung dan para sahabatpun berang.

Sepulang dari Ta’if dan perang Tabuk, Bujair mengirim surat kepada kakaknya Ka’ab agar ia meminta maaf kepada Rasulullah SAW atas puisinya itu. Ia mengatakan bahwa Rasul telah menghalalkan darah penyair Quraisy yang menghinanya, seperti Ibnu Za’bary dan Hubairah ibnu Abi Wahab.

Rasulullah SAW gembira dengan pertobatan Ka’ab r.a

Ka’ab bin Zuhair r.a gelisah dan khawatir dengan situasi ini. Ia merasa dunia menjadi sempit dan nyalinya menciut. Segera ia mencari perlindungan ke berbagai kabilah tapi tidak ada yang menjamin keamanannya. Maka ia pergi ke sahabatnya dari kabilah Juhanah yang  telah Islam dan meminta untuk difasilitasi bertemu dengan Nabi.

Di Masjid Nabawi, Ka’ab r.a tidak memperkenalkan jati dirinya karena takut. Ia hanya mengatakan secara diplomatis bila seandainya si tamu ini (sebenarnya adalah Ka’ab) membawa Ka’ab untuk meminta maaf, apakah Rasulullah SAW akan memaafkannya? Rasul menjawab tentu saja akan memaafkan. Setelah mendapat jawaban yang positif ini, Ka’ab barulah mengakui dirinya sebenarnya. Majelis sahabat langsung gaduh dan siap membunuhnya.

Namun, Rasulullah SAW mencegah dan gembira dengan pertobatan Ka’ab r.a. Pada pertemuan itu, Ka’ab mendendangkan puisinya yang berjumlah 54 bait di hadapan Rasulullah. Puisi ini terkenal dengan judul Baanat Su’ad. Salah satu bait puisinya memuji Rasul:

Sesungguhnya Rasul adalah pedang yang berkilau, yang ditempa di India sebagai salah satu pedang Allah yang terhunus.”

Rasulullah SAW senang dengan pujian ini. ia menghadiahkan jubahnya kepada Ka’ab r.a. Sejarawan mencatat, setelah masuk Islam, puisi-puisi Ka’ab banyak memuji Rasul. Struktur bahasanya menjadi lebih indah dan dalam, maknanyapun lebih mudah ditangkap. Ka’ab banyak membantu Islam dengan pengetahuannya yang luas.

Puisi-puisi Ka’ab bin Zuhair r.a diterjemahkan ke dalam bahasa Italia, Perancis, Inggris, Latin, dan Jerman. Ulasan karya Ka’ab juga banyak, di antaranya adalah Syarh Diwan Ka’ab bin Zuhair oleh Imam Sa’id al-Sukry, Ka’ab bin Zuhair karya Fuad al-Bustany.

Ulasan lain juga ditulis oleh Ibnu Duraid (933 Masehi), al-Tibrizy (1109 M), Ibnu Hisyamm (1360 M), al-Bajury (1869 M). Karya-karya ini dicetak berulang kali baik di Barat atau timur sejak pertengahan abad ke-18.