Kapasitas dan isi tas

Islam untuk Pemula 09 Apr 2021 Komiruddin
Opini oleh Komiruddin
Kapasitas dan isi tas
Kapasitas dan isi tas © Muhamad Edy Abdul Kasim | Dreamstime.com

Penampilan luar kadang menipu. Banyak orang yang terpesona dengan hanya melihat tongkrongan luar saja. Mobil yang mewah, pakaian yang wah, perhiasan yang melekat.

Di mana-mana kadang membuat orang silau, kagum, hormat dan tekuk muka. Hal ini sudah menjadi fitrah yang sulit disangkal dan seakan turun temurun sudah menjadi adat dan sunah yang terbiasa.

Kapasitas dan isi tas

Lihatlah betapa sebahagian kaum Nabi Musa a.s terkagum-kagum dengan Qarun dan hartanya.

“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

(Quran surah al-Qasas, 28:79)

Mereka mengira bahwa di sanalah letak kebahagian dan keberuntungan, letak kesuksesan dan keberhasilan. Tentu hal ini karena mereka hanya melihat dari luar dan tak tahu hakekat yang sebenarnya.

Mereka yang tahu akan hakikat yang sebenarnya tak pernah terpengaruh dengan kemilau harta dunia.

“Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.”

(Quran surah al-Qasas, 28:80)

Saya teringat dengan sebuah ungkapan hikmah yang diajarkan ustadz saya waktu dulu di Tsanawiayah.

Pada akhirnya penilaian kita tetap pada kapasitas

“Tsiyabukum yukrimukum qablal julus, wa aqlukum yukrimukum ba’dal julus /Pakaianmu akan menjadikan kamu orang yang dihormati sebelum duduk, sedang akalmu menjadikan kamu dihormati setelah duduk.”

‘Julus’ disini artinya duduk. Tapi ia juga bermakna mujalasah atau bergaul bersama dan saling kenal.

Maksudnya ialah sebelum kenal, orang akan melihat penampilan luar lalu dia dihormati atau tidak dihormati. Akan tetapi penampilan luar tidak akan terlalu berpengaruh bila orang sudah mengenal isi kepalanya.

Suatu ketika Imam Abu Hanifah berada di tengah muridnya sedang menyampaikan pelajaran. Ia duduk bersandar di salah satu tiang masjid sambil menjulurkan kakinya. Ini biasa karena ia mengenal muridnya satu-persatu.

Tiba-tiba masuklah seseorang yang belum ia kenal dengan penampilan seorang ulama. Baju gamis yang bagus, sorban berurai panjang seraya mengucapkan salam. Imam Abu Hanifahpun menjawab salamnya sambil membenarkan letak kakinya untuk duduk bersilah.

Setelah orang tersebut duduk ia pun bertanya kepada Imam Abu Hanifah dengan pertanyaan, “Wahai syekh, jika maghrib telah tiba sementara matahari belum tenggelam, apakah boleh bagi seorang yang sedang berpuasa untuk berbuka”.

Mendengar pertanyaan orang tersebut tahulah Imam Abu Hanifah kadar keilmuannya. Iapun berkata: “Wal yamdud Abu Hanifah rijlaihi / Sekarang Abu Hanifah boleh menyelonjorkan kakinya.”

Pada akhirnya penilaian seseorang tetap pada kapasitas. Oleh karenanya, jadilah orang yang dihormati karena kapasitasnya. Sebab itu yang membawa kenangan abadi, bukan hanya karena isi tasnya.