Karavanserai: penginapan gratis di Jalur Sutra

dreamstime_s_46331929
Karavanserai Sultanhani di Turki © Wieslaw Jarek | Dreamstime.com

Artikel ‘Karavanserai: penginapan gratis di Jalur Sutra’ ini terkait dengan industri pariwisata. Industri wisata saat ini sedang digandrungi kaum millenial. Anak-anak muda ini banyak yang memasang target 30 before 30.

Artinya, mereka akan mengunjungi 30 negara sebelum usia 30 tahun. Kegandrungan kaum millenial ini akan travelling ditunjang oleh berbagai faktor, seperti tiket pesawat mudah, akses informasi negara tujuan, dan tentu saja penginapan dengan kategori mahal hingga murah.

Pada masa dahulu pengembaraan juga telah dilakukan manusia, terutama untuk perdagangan. Anda masih ingat dengan Jalur Sutra? Jalur ini merupakan jalur perdagangan yang membentang sepanajng 6500 km dari Tiongkok ke Eropa Timur, baik melalui daratan (Jalur Utara), maupun kombinasi jalur daratan dan lautan (Jalur Selatan).

Jalur ini dibuka secara resmi tahun 130 Sebelum Masehi saat Dinasti Han berkuasa dan ditutup oleh Kesultanan Ottoman yang memboikot perdagangan dengan Tiongkok pada tahun 1453 Masehi.

Karavanserai di Jalur Sutra

Para saudagar yang melintasi Jalur Sutra menghabiskan waktu yang lama, menghadapi resiko alam, seperti hujan, salju, badai, dan banjir serta bahaya perampokan. Beruntung di sepanjang Jalur Sutra terdapat banyak karavanserai sebagai tempat menginap.

Karavanserai biasanya berbentuk benteng yang di dalamnya terdapat banyak fasilitas pendukung, seperti toko, kamar, gudang, dan juga jual beli hewan. Mereka bisa menukar hewan yang dipakai selama perjalanan dengan hewan baru agar lebih bertenaga.

Karavanserai diambil dari kata Persia ‘Karwan’; sekolompok orang yang bepergian dan ‘Sarai’; istana atau hotel besar. Bangunan ini biasanya berdiri  di tepi jalan dan menyediakan fasilitas penginapan bagi orang yang bepergian.

Pembangunan karavanserai sebagai hotel gratis bagi para pelancong telah dimulai sejak tahun 718 Masehi oleh Umar bin Abdul Aziz; salah satu Khalifah Dinasti Umayyah. Ia menginstruksikan gubernur Samarkand untuk membangun karavanserai di seluruh wilayahnya. Samarkand sebagai salah satu wilayah Persia merupakan titik temu penting bagi pedagang Jalur Sutra.

Arsitektur karavanserai abad pertengahan biasanya mengikuti desain benteng Romawi, istana Persia, dan rumah keluarga Asia Tengah. Bentuknya persegi panjang atau bujur sangkar dan memiliki satu gerbang yang cukup tinggi dan lebar.

Dengan demikian, semua kendaraan dan barang bisa masuk.  Materialnya berasa dari bahan lokal, seperti batu bata lumpur. Halaman dalam hampir selalu tak memiliki atap. Di halaman dalam itu senantiasa berderet kedai, kandang, ceruk, atau kamar untuk menampung para pedangan dan pelayan.

Karavanserai gratis dan peninggalan masa lalu

Kenyamanan pengguna juga menjadi perhatian pemilik karavanserai. Ketersediaan air, toilet yang bersih, ventilasi, dapur umum, dan kamar mandi yang besar adalah hal yang diperhitungkan. Di samping itu, pintu gerbangnya dijaga oleh petugas.

Dan yang paling penting, penginapan ini diberikan secara gratis kepada semua pengunjung, mulai dari makanan orang hingga makanan ternak. Siapa yang menanggung? Ternyata para bangsawan setempat yang punya ulah.

Di Persia, terdapat 100 karavanserai sisa-sisa peninggalan masa lalu.  whc.unesco.org menyebutkan 25 karavanserai, di antaranya adalah: Robat Sharaf, Robat Mahi, Sharif Abad, Robat Sang, Fakhre- Davood, Ghadamgah, Neyshaboor, Sange Kalil, zaferanyeh, Mehr, Mazinan, Myandasht, Myamey, Deh Molla, Ahovan, Qushe, Lasgerd, Dehnamak, Deyre Gachin, Eynol Rashid,  Parand, Sado Saltaneh, Zeynol Din, Khamoshi, Farasfag, Bisooton, Izadkhast, Khan khoreh,  Taj Abad, GHasre shirin, GHelli, Robat Eshgh.

Bila berkunjung ke Konya di Turki, anda juga bisa melihat karavanserai. Karavanserai Sultanhani ini didakwa sebagai terbesar di dunia merupakan peninggalan Kesultanan Turki Seljuk (berkuasa abad 11-14). Bangunan yang berdiri tahun 1229 Masehi ini masih terawat dengan baik dan menjadi spot wisata yang menarik.