Kasih sayang Allah SWT di balik menstruasi

Wanita Kkartika Sustry
Opini oleh Kkartika Sustry
Kasih sayang Allah SWT di balik menstruasi
Kasih sayang Allah SWT di balik menstruasi © Robert Khafizov | Dreamstime.com

Perempuan seringkali menolak atau tidak berbahagia menerima hadiah dari Allah SWT berupa menstruasi atau haid – hal ini sering terjadi ketika bulan Ramadan. Dengan alasan akan mengurangi pahala dan waktu dalam beribadah kepada Allah.

Tidak hanya kita tetapi sekelas istri Rasulullah SAW juga bersedih ketika haid. Namun Rasulullah menenangkan dengan mengatakan bahwa kita bisa melakukan ibadah yang lain hanya saja tetap tidak bisa salat.

Kasih sayang Allah SWT di balik menstruasi

Perempuan begitu mulia, Allah SWT beri keistimewaan dibanding laki-laki – salah satunya menstruasi. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah r.a, Rasulullah SAW berkata:

“Kami pergi dengan niat menunaikan haji. Saat kami tiba di Sarif, aku haid. Lalu Rasulullah SAW masuk menemuiku, sedangkan aku sedang menangis. Baginda lalu bertanya: Mengapa engkau? Apakah engkau haid? Aku menjawab: Ya aku tidak salat. Baginda bersabda: Tidak apa-apa sesungguhnya ini adalah suatu urusan yang telah ditetapkan Allah atas anak-anak perempuan Adam. Maka lakukanlah apa oleh orang yang sedang melakukan Haji, hanya saja janganlah engkau melakukan tawaf di Baitullah (sampai engkau suci dari haid, barulah diperkenankan haid)”

(disampaikan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari yang dikeluarkan oleh al-Hakim dan Ibnu Mudzir, sanad Shahih dari Ibnu Abbas)

Iman seseorang meningkat dan menurun, hal ini mempengaruhi motivasi seseorang dalam beribadah. Dalam satu bulan penuh adakala kita di masa futur, masa di saat iman kita sedang menurun dan sedikit berkurang semangat dalam beribadah.

Introspeksi diri untuk ibadah lebih baik

Dengan demikian penting sekali motivasi dan muhasabah diri agar keimanan kita tetap stabil. Hemat Penulis, di antara kasih sayang Allah SWT di balik menstruasi seorang perempuan yaitu menambah dan meningkatkan keimanan seseorang.

Ketika siklus menstruasi seorang perempuan dan motivasi ibadah sedang menurun, kemudian Allah SWT memberikan hadiah berupa haid agar kita istirahat sejenak bukan berarti melepaskan urusan ibadah melainkan agar kita memahami bahwa kita butuh dengan Allah.

Selama satu minggu penuh perempuan beristirahat dari salatnya, tentulah ia akan merasakan rindu untuk bertemu Allah SWT, rindu untuk bercengkerama kepada Allah dalam keadaan suci.

Selama itu pula kita bermuhasabah diri dan menyadari betapa pentingnya waktu yang diberikan untuk beribadah, juga sebagai bentuk pendewasaan diri kita. Bahkan seringkali salat dan ibadah kita belum sempurna, dan membuat kita hanya memenuhi kewajiban saja dalam beribadah.

Ketika masa menstruasi ini pula kita introspeksi diri dan memperbarui niat untuk ibadah lebih baik lagi. Hal ini pula yang akan membuat kita bersemangat untuk beribadah kembali.