Kebahagiaan para sahabat saat bersama Rasulullah SAW

dreamstime_s_178847274
Masjid Nabawi di Madinah, Makkah © Sonyasgar | Dreamstime.com

Rasulullah SAW diutus kepada manusia untuk membawa pesan dakwah dari Allah SWT. Al-Quran diturunkan kepada Baginda untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Pada awal masa dakwah Baginda di kota Makkah banyak cobaaan, cacian, hinaan dan bahkan ancaman dari penduduk sekitar.

Hanya sedikit sekali sahabat yang percaya akan kenabian Baginda. Masih sangat lemah dan nyaris para sahabat selalu mendapat ancaman dari orang-orang disekitarnya. Namun, mereka tetap mencintai nabi Muhammad SAW.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

(Al-Quran surah al-Anbiya’, ayat 107)

Mencintai Rasulullah SAW dengan segenap jiwa dan raga

Para sahabat yang hidup bersama Rasulullah SAW, mencintai Baginda dengan segenap jiwa dan raga juga harta. Di antara mereka ada yang dikucilkan masyarakat, dipersulit ekonominya, dicemarkan nama baiknya, dijatuhkan martabatnya. Meski demikian, kecintaan para sahabat kepada Rasulullah tidak tergoyahkan.

Seperti Bilal bin Rabah r.a yang pernah dijemur di tengah padang pasir yang panas, ada juga yang dipenjara di bawah tanah, disiksa dengan berbagai cara, mereka tetap mecintai Rasulullah SAW. Rumah dan kampung halaman mereka pernah diperangi dan dirampas hingga mereka tercerai berai dengan keluarganya.

Tidak sedikit sahabat yang masih muda, tidak menikmati masa mudanya demi berangkat ke medan perang dan menjemput maut. Itu terjadi, sebab mereka harus senantiasa ikut perang di bawah bayang-bayang kilatan pedang musuh demi membela keyakinan dan kecintaan kepada nabi Muhammad SAW.

Syahdan, seorang sahabat pernah diutus ke kandang musuh dan mengantarkan surat kepada mereka. Sahabat itu menyadari bahwa kemungkinan ia dapat kembali sangat kecil. Namun, ia tetap melakukan tugasnya. Banyak para sahabat yang mengorbankan nyawa demi menjalankan tugas. Demikianlah yang dilakukan oleh para sahabat karena kecintaan yang besar kepada nabi Muhammad SAW.

Sosok Muhammad SAW terdapat semua makna kebaikan dan kebahagiaan

Pertanyaannya adalah, mengapa mereka sedemikian rupa mencintai nabi Muhammad SAW? Mengapa mereka sangat bahagia walau nyawa mereka terancam? Mereka siap berkorban dengan harta? Juga mereka rela kehilangan keluarga demi Rasulullah?

Jawabannya ialah sebab mereka melihat sosok Muhammad SAW terdapat semua makna kebaikan dan kebahagiaan. Juga tanda-tanda kebenaran dan kebajikan. Baginda mampu menjadi petunjuk jalan bagi siapapun, dengan sentuhan kasih sayang dan kelembutan. Baginda mampu memadamkan gejolak dalam hati para sahabat.

Nabi Muhammad SAW juga mampu menancapkan jiwa kerelaan kepada para sahabatnya. Maka tidak mustahil jika mereka tidak memperhitungkan berbagai rintangan menghadang.

Rasulullah SAW berhasil meluruskan hati nurani dengan tuntunannya, menyinari mata hati mereka dengan cahaya. Saat bersama Baginda, mereka merasakan kenikmatan hidup, merasakan kasih sayang dan ketulusan hati, saat di bawah payung ajarannya mereka merasa tenteram, dengan mematuhi perintah mereka mendapat keselamatan, dan dengan meyakinin sunnah mereka mendapatkan kekayaan hati.

“Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

(Surah asy-Syuraa, ayat 52)

Demikian kebahagiaan bersama Rasulullah SAW, hingga kita yang hidup di abad ini bisa merasakan ajaran dari risalah yang dibawa oleh Baginda. Mudah-mudahan tulisan ini mampu menambah rasa cinta kepada Rasulullah seperti para sahabat nabi zaman itu.