Kebatilan tetap galau

Islam Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Kebatilan tetap galau
Kebatilan tetap galau © Ravi Kumar | Dreamstime.com

Rupanya kegalauan tetap melanda pelaku kebatilan. Walaupun segala daya upaya telah dikerahkan. Tetap tak ada yang aman dari perbuatan buruknya walau masih hidup dunia.

Kegalauan pembuat makar

Perhatikanlah saat imra-atul aziz (istri petinggi Mesir) ‘menjebak’ Nabi Yusuf a.s, Al-Quran menceritakannya sebagai berikut:

“Dan imra-atul aziz itu pun mengunci semua pintu.”

(Quran surah Yusuf, ayat 23)

Jadi, semua pintu telah terkunci. Atas dasar itulah, imra-atul aziz lalu berkata: “Marilah ke sini..” Imra-atul aziz itu berkata demikian, karena dia telah yakin seyakin-yakinnya bahwa semua pintu telah terkunci dengan baik. Di samping ‘pengaman-pengaman’ lainnya juga sudah dipastikan semuanya beres.

Dan Nabi Yusuf a.s pun mengetahui persis bahwa semua pintu telah dikunci dan ‘diamankan’ oleh imra-atul aziz. Nabi Yusuf melarikan diri menuju pintu. Bukankah Baginda telah mengetahui bahwa semua pintu telah terkunci?

Dan imra-atul aziz pun ikut mengejar Nabi Yusuf a.s menuju pintu. Bukankah imra-atul aziz telah memastikan bahwa semua pintu telah terkunci dan karenanya dia mengatakan: هَيْتَ لَكَ. Kenapa dia tidak ungkang-ungkang kaki saja? Dengan keyakinan bahwa semua pintu telah terkunci? Kenapa ikut mengejar menuju pintu?

Terkait dengan dua hal ini, Allah SWT berfirman:

“Dan keduanya (Nabi Yusuf dan imra-atul aziz) berkejaran berlomba mencapai pintu terlebih dahulu!”

(Quran surah Yusuf, ayat 25)

Hal ini membuktikan pelajaran penting kepada kita. Dari sisi Nabi Yusuf a.s meskipun Baginda telah mengetahui, bahwa semua pintu telah dikunci. Namun, sebagai manusia, Baginda tetaplah terkena kewajiban untuk al-akhdzu bil asbab (berusaha untuk melakukan sebab).

Singkatnya, tetap terkena kewajiban untuk berusaha, betapa pun sepertinya, secara ‘manusiawi’ usaha itu sepertinya tampak akan sia-sia. Dan dari sisi imra-atul aziz, kenapa dia tetap mengejar Nabi Yusuf a.s menuju pintu? Padahal, bukankah dia telah memastikan bahwa semua pintu telah terkunci??

Jangan gentar dengan kebatilan

Hal ini menunjukkan bahwa kebatilan, dan pelaku kebatilan, betapapun ia telah ‘memastikan’ makar dan tipu dayanya akan jitu dan berhasil, ia tidak akan pernah merasa tenang dan nyaman atas tipu dayanya sendiri.

Ia akan selalu diselimuti dan dikejar oleh rasa cemas, dan ketidakpercayaan atas tipu daya yang telah dibuatnya. Betapapun, secara ‘manusiawi’ sudah sangat-sangat maksimal, jitu dan berhasil.

Ia akan selalu mengalami keterkejutan-keterkejutan. Bahkan kepanikan dan kegalauan tingkat tinggi atas setiap usaha yang dilakukan oleh pendukung kebenaran. Semisal usaha Nabi Yusuf a.s itu, meskipun sebenarnya, secara ‘manusiawi’ usaha Nabi Yusuf itu akan ‘sia-sia’.

Demikianlah keadaan kebatilan dan pendukung kebatilan itu. Ia membawa tabiat laten rapuh, lemah, gala, tidak tenang dan tidak percaya diri dan mudah mengalami kepanikan.

Karenanya, meskipun ia telah mengunci semua pintu, tetap saja di saat nabi Yusuf a.s berlari menuju pintu, perempuan itu pun ikut mengejar. Sebab ia rapuh, lemah dan tidak percaya diri dan panik. Dalam dirinya dirundung oleh perasaan: “jangan-jangan Nabi Yusuf dapat membuka pintu!”

Oleh karena itu, wahai para pengusung pendukung kebenaran janganlah pernah gentar dalam menghadapi kebatilan dan pendukung kebatilan. Sebab, sedikit saja usaha kita, niscaya kebatilan dan pendukung kebatilan akan panik dan galau tingkat tinggi.

Apa lagi jika usaha dan upaya kalian lebih besar, lebih kuat dan lebih maksimal. Tentulah akan menghancurkan makar kebatilan.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.