Kebebasan dan burung Merpati

Filsafat Roni Haldi Alimi
Roni Haldi Alimi
Kebebasan dan burung Merpati
Kebebasan dan burung Merpati © Eugenesergeev | Dreamstime.com

Mayoritas manusia di berbagai belahan dunia menjadikan seekor burung sebagai simbol dari sebuah kebebasan. Setiap momen dan peristiwa yang mengusung tema kebebasan biasanya diakhiri dengan pelepasan sekawanan burung Merpati di udara.

Bahkan jikalau mau kita amati sedikit ke wilayah jazirah Arab tepatnya di Masjidil Haram, Mekkah. Burung merpati juga acap kali dijadikan suatu hal yang menarik bagi para jamaah umrah dan haji karena begitu banyak terbang dan hinggap dengan bebasnya di pelataran kiblat umat Islam itu.

Kebebasan dan burung Merpati

Semua orang ingin miliki kebebasan. Kebebasan yang menjadikan seseorang berdaya menguasai mengekplorasi diri dalam memanfaatkan kesempatan hidup yang punya batas bernama kematian.

Ada yang memahami kebebasan sebagai bentuk tidak adanya batasan bagi seseorang berbuat apa saja sesuka hatinya seenak perutnya dalam keseharian. Orang model ini akan menjadikan agama sebagai penghalang kemajuan dalam segala sendi kehidupan.

Bebas dikembalikan maknanya kepada jatidiri manusia yang tanpa ikatan aturan. Bebas dimaknai masing-masing manusia punya hak mengatur dirinya sendiri tanpa ada ikatan aturan-aturan. Benarkah pendapat seperti itu? Bagaimana sebenarnya konsep kebebasan dalam Islam?

Makna dan konsep kebebasan dalam Islam

Ada penggalan menarik dari sebuah buku berjudul ‘Al-Hurriyatul Insan Fil Islam’ yang ditulis oleh Muhammad Abu al-Qasim Haj Hamad. Bahwa konsep kebebasan manusia telah terang benderang dalam Islam.

Al-Quran sebagai kitab pedoman telah lebih duluan menanamkan arti sebuah kebebasan jauh sebelum seluruh doktrin yang kita kenal. Sebuah konsep sangat sederhana dari kebebasan atau diistilahkan dengan ‘Al-Hurriyah’ tanpa membuat manusia terlalu sukar lagi rumit mengartikan hingga mengimplementasikan sebuah kebebasan dalam kenyataan.

Al-Quran datang dengan aturan paling terbuka ketika mengembalikan konsep kebebasan kepada proses pembentukan manusia itu sendiri, karena ia adalah makhluk gabungan di atas dasar kebebasan. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”

(Quran surah an-Nahl, ayat 78)

Mendengar tapi tanpa telinga, melihat tapi bukan menggunakan mata, dan hati bukan pompa di dada. Artinya Allah Taala menjadikan komponen kesadaran yang membuat seseorang dalam keadaan integrasi dan kehadiran buktinya didapati dalam rahim ibunya ‘tidak mengetahui’ dan kemudian didorong untuk berenang di atmosfer alam semesta untuk mengetahui.

Dan ilmu telah menggabungkan penglihatan, pendengaran, dan hati dengan ritme alam, tetesan airnya, bayangannya, geometri bentuknya, nyanyian burung dan siulan dari anginnya di antara pepohonan di hutannya, tumbuhan liar di ladang.

Potensi pendengaran, penglihatan dan hati

Kemudian Allah SWT mempermudah makna kebebasan, dan dia memberi contoh untuk memperjelas makna kebebasan itu lewat firman-Nya dalam surah An-Nahl, ayat 79:

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

Contoh burung di atmosfer langit, tanda kebebasan dalam pandangan terbaiknya yang terlihat oleh mata yang melihat burung dengan dua sayapnya. Dan manusia dengan tiga sayapnya; pendengaran, penglihatan, hati dan seluruh alam semesta.

Penting bagi manusia untuk mengetahui setelah Allah Taala mengeluarkannya dari rahim ibunya, dia tidak tahu apa-apa. Burung adalah simbol kebebasan dalam literatur kontemporer kita. Pertanyaannya, siapa yang mampu mengalahkan Allah dan membatasi arti kebebasan bagi manusia?

Allah SWT telah melepaskan manusia yang Ia ciptakan. Agar bebas dan bebas, untuk menyatukan seluruh potensi kekuatan pendengaran, penglihatan dan hati dengan seluruh alam semesta.

Ketiga postensi dasar manusia itu jika diletakkan sesuai dengan ketentuan garis kebebasan, maka akan menjadikan manusia sebagai sosok pemimpin panutan bagi seluruh alam. Dan inilah sebenar misi penciptaan manusia di kehidupan dunia sebagai jembatan penghubung menuju hari pembalasan yang telah dipastikan.

Alam pasti berubah dan akan punah, itulah ketetapan tak berubah. Tetapi Allah Taala menjadikan seekor burung merpati yang bebas terbang di atmosfir dunia sebagai tamsilan bagi manusia.

Manusia yang dilengkapi dengan kekuatan pendengaran, penglihatan dan hati untuk dijadikan sarana berfikir. Memetik iktibar dan memahami arti sebenarnya dari sebuah kebebasan.

Enjoy Ali Huda! Exclusive for your kids.