Kemajuan teknologi dalam kekhalifahan Dinasti Abbasiyah

Sejarah 22 Mar 2021 Asna Marsono
Terbaru oleh Asna Marsono
Kemajuan teknologi dalam kekhalifahan Dinasti Abbasiyah
Kemajuan teknologi dalam kekhalifahan Dinasti Abbasiyah © about-history.com

Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah pertama kali diciptakan oleh Abu al-Abbas, yang memimpin revolusi pada tahun 750 Masehi. Sejak awal, pengetahuan teknologi maju dan berkembang pesat dalam periode mereka.

Kemajuan pengetahuan ini sama-sama disanjung oleh umat Islam serta oleh peradaban barat.

Kemajuan teknologi dalam kekhalifahan Dinasti Abbasiyah

Dinasti Abbasiyah menyentuh setiap bidang pengetahuan dan mengalami kemuajuan teknologi yang pesat. Selain itu, Baghdad menjadi pusat mereka, terus mencetak para cendekiawan dunia.

Dunia menyaksikan kemajuan berikut di era Kekhalifahan Abbasiyah.

Bidang astronomi

Astronomi sangat dihargai di era itu karena terkait dengan agama, waktu salat, bepergian, dan navigasi. Al-Tusi dan Al-Farghani, dua ulama terkemuka yang mendalami bidang astronomi, menulis berbagai buku.

Cendekiawan terkenal Ibrahim al-Fazari menciptakan Astrolobe. Kemudian, anaknya mendalami ilmu bintang. Selain itu, para cendekiawan juga menemukan cara menghitung jarak langit, perimeter bumi, dan diameter bulan.

Di samping itu, umat Islam bekerja pada rasio trigonometri dan merumuskan aturan dan peraturan baru, termasuk tabel nilai tangen yang diformulasikan. Beberapa ilmuwan bekerja pada metode geografis temuan kiblat, sementara yang lain tertarik untuk memahami fenomena atmosfer.

Bidang medis dan bedah

Muslim menerjemahkan buku-buku Yunani tentang obat-obatan karena saat itu Baghdad memiliki pusat penerjemahan bahasa yang unggul. Berdasarkan terjemahan ini, umat muslim mengembangkan metode baru untuk meningkatkan obat-obatan.

Mereka memanfaatkan herbal dan bahan alami lainnya dan membuat kemajuan luar biasa di bidang medis. Ensiklopedia kedokteran dibuat, gravitasi tuberkulosis dibahas, efek buruknya dijelaskan, dan banyak cendekiawan bekerja pada perkembangan anak juga.

Alzahrawi  menemukan banyak instrumen seperti penjepit, kateter, forceps, pisau bedah, tombak, specula, dan cautery set. Kemudian, para cendekiawan Barat mengikuti tekniknya selama berabad-abad, seperti penggunaan spons dingin untuk pengurangan rasa sakit.

Selain itu, Cendekiawan muslim Ibnu Masawayh menulis sebagian besar dalam bahasa Arab dan menyusun perjanjian medis paling awal tentang ophthalmology. Dokter dan filsuf Ibnu Sina menulis Canon of Medicine, yang membantu dokter mendiagnosis penyakit berbahaya seperti kanker.

Ilmu optik

Ilmuwan muslim seperti Ibnu Haitsam mengaplikasikan jasanya di banyak bidang. Beliau untuk pertama kalinya, menjelaskan visi dan persepsi penglihatan.

Beliau juga menemukan proses refleksi dan menguraikan bahwa penglihatan terjadi ketika cahaya jatuh dan memantul kembali ke mata, sehingga menceritakan bagaimana mata melihat. Fenomena ini membantu dalam penciptaan kamera.

Industri kertas

Umat muslim juga berpengaruh di industri kertas dengan membuat pabrik kertas di Baghdad yang membantu dalam membuat toko buku, industri buku, perpustakaan, dan bahkan perpustakaan pribadi.

Belajar dan memberikan pendidikan dijadikan misi di Kota 1001 Malam waktu itu. Industri kertas ini memainkan peran kunci dalam pelestarian dan penyebaran pengetahuan di kalangan muslim.

Singkatnya, tidak ada yang dapat menyangkal fakta ini bahwa muslim memerintah seluruh dunia di era keemasan ini dalam sains, teknologi, seni, dan literasi. Mereka menghargai pengetahuan, mempelajarinya, dan bekerja untuk kemajuannya.

Oleh karena itu, muslim di daerah itu benar telah merenungkan alam semesta ini, hukum alaminya, dan menemukan rahasia-rahasia yang diperlukan untuk kemajuan pengetahuan, terutama dalam teknologi.