Kendaraan terakhir kita

Filsafat Roni Haldi Alimi
Opini oleh Roni Haldi Alimi
Kendaraan terakhir kita
Kendaraan terakhir kita © Suryo | Dreamstime.com

Tak ada yang tak tahu benda itu. Lumrah dilihat dijumpai di berbagai kampung atau tempat berkumpul bersosial manusia. Benda biasa tapi berharga itu adalah keranda.

Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, keranda diartikan sebagai tempat usungan mayat bertutup. Atau batu besar yang dicekungkan bagian atasnya sehingga berbentuk lesung atau palung dan diberi tutup batu. Digunakan sebagai tempat menyimpan kerangka manusia dalam tradisi penguburan prasejarah.

Arti sebuah keranda

Tatkala seorang muslim tutup usia, salah satu yang dicari oleh sanak keluarga adalah sebuah benda bernama keranda. Keranda biasa digunakan untuk mengangkat jenazah dari rumah duka menuju kuburan peristirahatan terakhir manusia.

Biasanya, setiap desa atau pemukiman punya sarana keranda yang dipersiapkan di mesjid atau meunasah. Kapan dibutuhkan, keranda siap di ambil manfaat penggunaannya.

Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain pula belakangnya. Sama halnya dengan keranda, lain tempat lain pula bentuk dan jenis bahan baku dipakai menjadi keranda. Seiring dengan kemajuan zaman, banyak perubahan yang menyebabkan pergeseran kebiasaan di tengah-tengah masyarakat.

Antara dulu dengan sekarang ada beda dalam pemanfaatan keranda. Dulu di desa, untuk mengangkat dan membawa jenazah ke perkuburan masih menggunakan keranda, bedanya dulu dari kayu sekarang sudah beralih kepada besi jenis stenlis (supaya lebih ringan).

Bahkan sekarang agar lebih mudah lagi, menggunakan ambulance disebabkan jarak tempuh ke kuburan lebih jauh. Namun walaupun pakai ambulance, keranda tetap dipakai mengangkat membawa mayat ke tempat peristirahatan terakhir di dunia.

Keranda adalah kendaraan terakhir

Keranda adalah kendaraan terakhir semua orang. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, tua atau muda, orang tua atau anak kecil, orang besar berpengaruh atau orang kecil biasa.

Bergelar atau tak bergelar, saleh ataupun thaleh, ulama atau umara, dalam keadaan jaga atau tertidur, sedang berjalan atau duduk, di rumah atau di jalan, lagi berbicara ataupun diam, semuanya dibawa di usung dengan keranda.

Dalam surah Luqman, ayat 34 mengabarkan kepastian kematian yang membawa ke dalam keranda. Kematian yang datang pasti namun tak seorang pun tahu pasti berita tentangnya. Bahkan, dengan keranda apa dan dimana serta siapa yang mengangkat mengusungnya. Sekali lagi, keranda itulah kendaraan terakhir kita semua di dunia.

“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”

Nasehat berharga kehidupan

Keranda mungkin hanyalah benda sederhana yang bentuknya biasa saja. Tapi, di balik itu ada satu makna besar. Ya, apalagi kalau bukan kematian. Benda ini adalah satu-satunya kendaraan terakhir menuju tempat abadi, di mana manusia takkan bisa kembali lagi.

Bentuknya biasa, tapi keranda jadi semacam pengingat ampuh akan kematian akhir perjalanan hidup manusia. Menyadari diri singgah sebentar tak lama. Tamu bukan tuan rumahnya adalah langkah awal yang baik sebelum dikafankan.

Diangkut ke dalam keranda, dibawa menuju peristirahatan sementara sebelum menetap tinggal di rumah abadi setelahnya. Tak seorang pun yang tak pergi meninggalkan dunia dengan segala isinya.

Karena tamu takkan menetap selamanya di rumah bukan miliknya. Siapkan diri dengan simpanan amal kebajikan sebelum keranda diusung membawa jasad kaku kita. Keranda itulah kendaraan terakhir kita. Pengingat ampuh kematian manusia.