Kepemimpinan – Umar r.a dengan rakyatnya

dreamstime_s_34962384
Kepemimpinan - Umar r.a dengan rakyatnya © - Dreamstime.com

Siapa yang tidak mengenal Umar al-Khattab r.a? Sosok pemimpin yang tegas, adil, karismatik dan berhasil memakmurkan rakyat. Umar terhadap rakyatnya benar-benar membuat kita kagum dan namanya pun kian mengharum, mulia dan teladan dalam kepemimpinan.

Siang-malam ia pantau keadaan rakyatnya. Ia benar-benar sadar kepemimpinan itu adalah melayani. Kepemimpinan bukan untuk menaikkan status sosial, menumpuk harta, yang akan menghasilkan kehinaan di Akhirat semata.

Saat ini, kita baru mengenal kata blusukan sebagai ciri pimpinan peduli; Umar r.a telah melakukannya sejak dulu dengan ketulusan hati. Ia duduk bersama rakyatnya, mengintipi keadaan mereka, dan menanyai hajat kebutuhan. Kepada yang kecil atau yang besar, kepada yang kaya atau yang miskin. Ia tidak pernah memberikan batas kepada mereka semua.

Umar r.a bersama rakyat

Abdullah bin Abbas r.a  mengatakan, “Setiap kali salat, Umar r.a senantiasa duduk bersama rakyatnya. Siapa yang mengadukan suatu keperluan, maka ia segera meneliti keadaannya. Ia terbiasa duduk sehabis shalat subuh hingga matahari mulai naik, melihat keperluan rakyatnya. Setelah itu baru ia kembali ke rumah.”

Mengenai kepemimpinan Umar r.a dengan rakyatnya, pada suatu ketika, masyarakat di Madinah dalam keadaan prihatin luar biasa. Umar wajahnya tampak pucat. Tubuhnya agak kurus walau tetap lincah melayani keperluan masyarakatnya. Ia hanya makan roti keras yang dicelupkan ke dalam segelas air.

Ajudannya merasa pilu melihat keadaannya sehingga dengan rasa haru berkata, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menyiksa dirimu sendiri dengan mengurangi makan dan bila makan hanya dengan roti keras seperti itu?

Padahal bila engkau mau, akan kami datangkan makanan yang pantas dan aku minta ke Baitul Maal mengeluarkan sejumlah uang untuk makanan yang engkau sukai.” Umar r.a menjawab, “ Wahai Aslam, sungguh tidak pantas seorang pelayan umat lebih mewah makanannya dari tuannya.”

Pada hari Jumat, Umar r.a berdiri di atas mimbar sehingga tampak begitu banyak tambalan pada jubahnya. Padahal, ia adalah seorang pemimpin dengan kekuasaan ditangannya. Tetapi, lihatlah dengan hati penuh haru dan rindu pada keteladanannya.

Umar bin Khattab r.a tetap menjadi mutiara berbinar walau berbalut jubah lusuh bertambal benang kasar. Ketika berdiri memberi khotbah dan suara perutnya berbunyi keras. Kemudian Umar berkata, “Berbunyilah terus atau berhenti. Demi Allah SWT engkau tidak akan kenyang sampai anak-anak Muslim merasa kenyang.”

Melayani rakyatnya dengan cinta

Di kalangan umat Islam, Umar r.a adalah sosok pemimpin yang benar-benar merakyat. Tengah malam, saat orang terlelap, ia justru patroli, mengecek kondisi rakyatnya. “Jangan-jangan ada yang tidak bisa tidur karena lapar,” begitu mungkin pikirnya.

Begitu ia menemukan seorang ibu yang anak-anaknya menangis karena lapar, sedangkan tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak dan disuguhkan, dengan segenap daya Umar r.a pergi ke Baitul Maal dan memikul sendiri sekarung gandum untuk kebutuhan makan keluarga tersebut.

Kisah Umar bin Khattab r.a adalah  renda-renda emas kualitas kepemimpinan melayani rakyatnya dengan cinta. Ia merasakan betul bahwa jabatannya sebagai khalifah bukanlah sebuah kesempatan emas untuk meneguk kenikmatan diri dan keluarganya. Melainkan sebuah amanah langit yang membuat jiwanya bergetar takut walau sebutir kurma sekalipun masuk ke dalam perutnya yang akan mengurangi hak orang-orang miskin.

Di tahun 2020 ini, dengan momentum pilkada serentak seluruh Indonesia, tentu kita berharap akan lahir pemimpin-pemimpin daerah yang meneladani Umar bin Khattab r.a. Pemimpin yang cinta dan benar-benar peduli pada rakyatnya tanpa rekayasa dan pencitraan. Serta pemimpin yang semakin mendekatkan rakyatnya kepada Sang Khalik, agar keberkahan Allah SWT kucurkan dari penjuru langit dan penjuru bumi. Insya Allah.