Kerajaan Islam Demak dan legitimasi agama Islam di Nusantara

Masjid Agung Demak sekarang © Kurniawan Adi | Dreamstime.com

Kerajaan Islam Demak berdiri di saat runtuhnya kerajaan terbesar sepanjang sejarah nusantara, Majapahit. Menurut Babad Tanah Jawa pendirinya Raden Fatah pada awal abad ke-16.

Raden Fatah merupakan anak Brawijaya V, raja terakhir Majapahit dari istri selir Siu Ban Ci putri Kyai Batong (Tan Go Hwat). Siu Ban Ci terpaksa hijrah ke Palembang karena Ratu merasa cemburu. Setelah melahirkan anaknya, Raden Fatah, wanita keturunan Tionghoa ini akhirnya dinikahi Ario Damar yang merupakan anak dari Brawijaya III.

Setelah dewasa, Raden Fatah menjumpai Ayahandanya, Raja Brawjaya V. Setelah didesak, raja mengakui Raden Fatah sebagai anaknya kemudian memberikan kedudukan sebagai bupati di daerah Glagahwangi (Demak).

Sebagai seorang Muslim, Raden Fatah memiliki kesempatan untuk menyiarkan agama Islam. Sebagai raja muda, ia memegang kekuasaan penuh untuk mengatur pemerintahan meskipun arah kebijakan politik masih dikendalikan oleh Kerajaan Majapahit.

Di lain pihak, pengaruh Sunan Giri semakin besar di kalangan masyarakat Majapahit. Pesantren yang didirikannya berubah nama menjadi Kerajaan Giri atau Giri Kedaton. Penyebaran Islam pun tak terbendung apalagi setelah beliau diangkat menjadi mufti/pimpinan para Wali Sanga. Daerah-daerah seperti Jepara, Tuban, dan Gresik menjadi pusat kajian Islam dan banyak pesantren-pesantren bermunculan.

Islamisasi semakin luas. Raden Fatah berencana menyerang Majapahit guna menegakkan panji Islam di bawah bendera kerajaan. Tetapi keingannya ini ditolak oleh Sunan Giri. Wali Allah itu menasehati tidaklah elok meruntuhkan kerajaan ayah sendiri. Selain itu beliau juga memprediksi bahwa Majapahit telah rapuh dan akan jatuh sendiri.

Perkiraan Sunan Giri terbukti. Majapahit diserbu Adipati Keling, menantu Raja Brawijaya V. Ada berita yang mengabarkan sang Raja tewas dalam penyerangan tersebut, ada pula yang menyebutkan beliau melarikan diri dan berlindung di bawah kekuasaannya anaknya di Glagahwangi.

Para Wali mengadakan sidang untuk merebut kembali kekuasaan Majapahit dan menunjuk Raden Fatah sebagai pimpinannya. Bupati itu mengumpulkan Prajurit Glagahwangi dan para pendukung di daerah-daerah Islam.

Penyerangan pun dimulai. Para wali langsung menjadi panglima dalam peperangan ini. Pasukan Islam ini menyerbu majapahit dari segala arah dengan gagah berani dan tak takut mati. Majapahit takluk dalam waktu satu hari satu malam. Adipati Keling ditangkap hidup-hidup dan diadili secara terhormat.

Majapahit jatuh, secara otomatis kekuasaannya berpindah ke Glagahwangi. Lambang-lambang kekuasan Majapahit dibawa ke Demak yang menunjukkan beralihnya tabuk pemerintahan. Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak dan menyatukan semua kerajaan Islam yang telah ada. Berdirinya kerajaan tersebut menunjukkan kepada seluruh daerah kekuasaan Majapahit bahwa eksistensi dan legitimasi kerajaan Islam di Nusantara telah dimulai. Tabik.