Kesabaran dan ketabahan Dzatun Nithaqaini

Kepercayaan Sanak 02-Sep-2020
dreamstime_s_180747531
Kesabaran dan ketabahan Dzatun Nithaqaini © Atomazul | Dreamstime.com

Hijrah ke Madinah adalah momen bersejarah bagi Rasulullah SAW. Betapa tidak, Nabi SAW bergerak di bawah bayang-bayang pembunuhan yang direncanakan. Namun, Allah SWT adalah sebaik-baik pengatur rencana sehingga segala daya dan upaya kaum Quraisy tak berguna. Dzatun Nithaqaini, salah seorang yang memiliki peran penting dalam proses hijrah ini.

Namanya Asma binti Abu Bakar r.a, saudari istri Rasulullah SAW, Aisyah r.a. Putri Abu Bakar r.a ini termasuk salah satu wanita di Kota Mekah yang pertama masuk Islam, menurut Ibnu Ishaq pada urutan kedelapan belas. Keimanannya dibuktikan dengan pengabdian dan pengorbanan dalam membela agama.

Syahdan, pada malam yang ditentukan, Rasulullah SAW dan Abu Bakar r.a telah bersiap-siap untuk berhijrah. Untuk menghindari pengejaran, manusia pilihan dan sahabatnya itu memutar arah perjalanan kemudian bersembunyi di dalam Gua Tsur selama tiga hari. Selama ini pula Asma r.a mengantarkan makanan untuk mereka berdua.

Untuk mengelabui orang kafir Quraisy, Asma r.a sengaja membelah ikat pinggangnya. Setengah untuk ia pakai, sedangkan belahan yang lain untuk menyembunyikan perbekalan bagi Rasulullah SAW dan Abu Bakar r.a. Semenjak itu, Rasulullah memberinya gelar Dzatun Nithaqaini, ‘Wanita yang memiliki dua ikat pinggang’.

Cerita Asma r.a belumlah selesai setelah Rasulullah SAW selamat dari pengerjaran Kaum Quraisy. Abu Jahal yang kesal karena tidak bisa menangkap Nabi, meluapkan kemarahannya dengan mengunjungi rumah Abu Bakar r.a. Asma tampil menghadapi Firaunnya umat ini.

“Di mana ayahmu? Bentak Abu Jahal.

Asma r.a berkilah. “ Demi Allah, aku tidak tahu.”

Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kandung Abdullah bin Abu Bakar r.a ini yang melepaskan anting-antingnya. Namun beliau tidak gentar hingga Abu Jahal pun pergi.

Kesabaran Asma r.a kembali diuji ketika ayahnya, Abu Bakar r.a membawa seluruh harta yang berjumlah sekitar 5.000 hingga 6.000 dinar ke Madinah. Sang kakek, Abu Quhafah r.a datang kepada Asma.

“Orang ini (Abu Bakar) nampaknya ingin menyusahkan kalian dengan membawa seluruh hartanya?”

Mendengar pertanyaan itu, Asma r.a berkata, ”Tidak, Kek. Bahkan beliau telah menyisakan harta yang banyak untuk kami.” Kemudian Asma mengambil batu-batu kemudian dia menutupinya dengan selembar baju. Setelah itu Asma memegang tangan kakeknya.”Letakkan tangan Kakek di atas uang ini.”

Sang kakek pun merasa lega. “Kalau memang dia telah meninggalkan harta untukmu,  maka dia telah berbuat baik. Ini sudah cukup bagi kalian.” Kemuliaan akhlak Asma r.a itu telah menenangkan rasa gundah di hati sang kakeknya.

Nama Dzatun Nithaqaini akan senantiasa dikenang karena telah meriwayatkan 54 hadis dari Rasulullah SAW. Selain itu putranya, Abdullah bin Zubair r.a menjadi pahlawan Islam sedangkan Urwah bin Zubair tokohnya ulama tabiin. Semoga kita bisa meneladani keberanian dan kesabarannya. Tabik.