Kesehatan mental: Lima hal yang perlu diketahui

Kesejahteraan Mental 13 Mar 2021 Asna Marsono
Asna Marsono
Kesehatan mental: Lima hal yang perlu diketahui
Kesehatan mental: Lima hal yang perlu diketahui © Nanausop | Dreamstime.com

Setiap untaian kehidupan emosional, intelektual, dan sosial kita kembali ke tujuan rohani kita yaitu menyembah kepada Allah Yang Maha Esa. Ketika kita berbicara tentang kesehatan jasmani dan rohani, kita telah dianugrahi oleh Allah SWT dengan tuntunan-tuntunan menjalani kehidupan dalam bentuk Al-Quran dan Hadis.

Di dunia saat ini, semua orang berasumsi bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai sebanyak-banyaknya kesenangan dan kepuasan. Kesalahpahaman tentang sifat kehidupan muncul di sini ketika kita berpikir bahwa kebahagiaan ada di rumah impian kita, liburan mewah, atau keluarga yang sempurna.

Berikut adalah hal hidup yang seharusnya tidak pernah sempurna. Narasi yang tidak adil ini berdampak negatif pada pikiran kita. Kehidupan menguji semua orang di antara kita, kita akan mengalami susah, senang, patah hati, kesuksesan, dan kegagalan.

Kesehatan mental: Lima hal yang perlu diketahui

Pada masa-masa ini, kita dapat menggunakan waktu kita untuk memperbaiki diri, menjadi yang lebih baik dengan cara menemukan kedamaian dalam diri kita sendiri. Karena di dalam keadaan susah maupun senang, hanya diri kitalah yang hadir untuk melalui berbagai macam cobaan hidup.

Berikut adalah lima kunci untuk menjaga kesehatan mental:

1. Jangan pernah meremehkan diri sendiri

Sering terjadi, pikiran kita baik itu negatif atau positif secara langsung mempengaruhi kesehatan mental kita. Sebagian besar kita berpikir bahwa masalah kita terlalu besar, terlalu menghancurkan dan terlalu sulit itu mungkin bukan kenyataan. Allah SWT berfirman dalam al-Quran:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(Quran, surah al-Baqarah, ayat 286)

Sebagai seorang Muslim, kita harus berusaha agar jangan sampai membiarkan diri kita membahayakan kesehatan mental. Atau terjebak dalam pikiran negatif yang tak ada hentinya.

Kita harus percaya pada kemampuan kita bahwa kita dapat mengatasi setiap perjuangan yang kita hadapi entah itu fisik, mental, atau spiritual. Kita harus menjaga percaya bahwa Allah Taala tahu apa yang mampu kita atasi.

2. Kekuatan perjuangan

Nabi-Nabi di bumi ini menghadapi banyak masalah, rasa sakit dan kesulitan. Tapi tetap saja mereka selalu adil dalam perbuatan, perkataan, dan hati mereka. Namun pada saat yang sama, para nabi banyak yang menderita.

Kita perlu ingat bahwa ketika Allah SWT menginginkan sesuatu yang baik bagi kita, Dia menguji kita dan karenanya dosa-dosa kita jatuh. Dalam hadis dari Mush’ab bin Sa’id- seorang tabi’in – dari ayahnya, ia berkata:

“Wahai Rasulullah, orang-orang mana yang diuji lebih parah? Rasulullah SAW bersabda: Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

(Hadis riwayat Tirmidzi, 2398)

Nabi Yaqub a.s menghadapi banyak rintangan dan rasa sakit ketika ia kehilangan putranya Yusuf  a.s. Setelah kesedihan yang berlarut-larut, Baginda menjadi buta tetapi tetap saja tidak kehilangan harapan. Alih-alih mengeluh, Baginda mendekatkan diri kepada Allah SWT, satu-satunya yang bisa membantu dalam keadaan apapun.

Banyak dari kita suka mengingkari rahmat yang Allah SWT telah berikan di waktu senang. Setelah kita melewati masa-masa sulit, kita menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya yang melindungi kita, menopang kita dan menyediakan segala yang kita butuhkan.

Perjuangan dan rasa sakit kita mungkin kadang-kadang berkah bagi kita yang membawa kita lebih dekat kepada Allah Taala. Kitab Suci al-Quran mengatakan:

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).”

(Quran, surah an-Naml, 27:62)

3. Kesengsaraan adalah pertanda kemudahan

Berasal dari cerita al-Quran bahwa hal-hal paling sulit adalah masa sebelum bantuan datang. Jika keadaan semakin sulit jangan menyerah karena itu adalah tanda kemudahan.

Nabi Yaqub a.s kehilangan penglihatannya setelah kehilangan putranya Yusuf a.s. Kemudian ia kehilangan putra keduanya, Bunyamin a.s (Benjamin) tetapi tetap saja Baginda tidak kehilangan harapan dan yakin bahwa waktu kemudahan lebih dekat.

Seringkali pada saat kondisi tak tertahankan, Allah Taala mengirimkan pertolongan-Nya.

4. Kemudahan pasti akan datang

Penderitaan kita tidak ada yang akan berakhir selamanya. Kemudahan pasti akan dating, terutama kepada orang yang mau berusaha bagi dirinya di jalan Allah Taala. Allah berfirman yang artinya:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”

(Quran, surah at-Talaaq, 65:2)

Untuk menjadi lebih baik, niat ingin menjadi pulih harus menjadi prioritas pertama, dan anda perlu melakukan upaya untuk melawan pikiran negatif anda. Setelah mengambil langkah ini, segalanya akan menjadi lebih mudah.

Carilah dukungan dari para profesional, orang yang dicintai dan imam sebanyak yang anda bisa. (Dan kembalilah kalian) yakni kembalilah kalian (kepada Allah, maka tanyakanlah kepada-Nya) dengan menyala-Nya (dan sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang kalian persekuat) itu terhadap-Nya.

5. Carilah bantuan melalui kesabaran dan doa

Sebagai langkah utama, carilah konselor  dan psikiater yang tersedia untuk anda. Para profesional ini berpengalaman dan dapat membantu anda keluar dari rasa sakit anda. Allah berfirman:

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.”

(Quran, surah al-Baqarah, 2:45)

Kesabaran adalah salah satu kualitas paling etis yang dapat kita tegakkan. Ketika kita dalam keadaan kesabaran kita lebih berharap. Rasulullah SAW bersabda:

“…Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah. Dan janganlah menjadi lemah…”

(Hadis riwayat Muslim, 2664)

Ditambah lagi, orang yang sabar sangat dicintai oleh Allah SWT, sampai-sampai Allah menjanjikan pahala yang tak terhingga bagi orang yang sabar dalam masa sulit.

Jangan pernah kehilangan harapan

Hidup dapat membebani kita, tetapi kita seharusnya meringankannya dengan mengingat Allah Taala. Hidup memiliki banyak naik turun, jika kita berada dalam fase yang mulus dalam hidup kita, kita perlu berterima kasih kepada Allah.

Untuk itu, jika kita menderita masa-masa sulit kita perlu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan pernah kehilangan harapan dan kepercayaan kepada-Nya.

Mari kita beristirahat dari kebisingan dunia sejenak, dan pergi mencari orang yang kita cintai. Dan yang paling penting mendekat dengan Tuhan kita, Allah SWT.