Kesempurnaan berharap kepada Allah Taala

Islam untuk Pemula Tholhah Nuhin
Terbaru oleh Tholhah Nuhin
Kesempurnaan berharap kepada Allah Taala
Kesempurnaan berharap kepada Allah Taala © dotshock | Dreamstime.com

Untuk mencapai kesempurnaan sikap roja’ (berharap) kepada Allah SWT, maka ada tiga perkara yang harus diperhatikan seperti berikut ini:

Cinta

Yaitu mencintai Allah Taala dan Rasul-Nya atas segala  yang lainnya, di mana ada tiga maqam yang harus dimiliki, yaitu:

Pertama, maqam takmil (maqam penyempurnaan). Yaitu hendaklah Allah SWT dan Rasul Nya lebih ia cintai daripada yang lainnya, yang berarti pula tidak hanya bermakna sekedar cinta, tapi cinta yang sebenar-benarnya cinta atau sampai pada kesempurnaan cinta.

Kedua, maqam tafriq (maqam pembedaan). Yaitu, mencintai seseorang hanya karena Allah  Taala semata, dan juga sebaliknya membenci seseorang baik berupa perkataan maupun perbuatan, semata hanya karena hal tersebut dibenci oleh Allah.

Ketiga, maqam daf’ul al-naqidh (maqam penolakan atas lawan iman). Yaitu hendaklah membenci segala sesuatu yang berlawanan dengan iman dengan kebencian yang melebihi kebenciannya bila dilemparkan ke dalam neraka.

Maka cinta kepada Allah SWT sesungguhnya tidaklah akan sempurna kecuali dengan menyerahkan semua loyalitasnya hanya kepada-Nya saja. Tentu saja dengan menyesuaikan dirinya dengan apa yang Allah suka dan benci.

Dengan kata lain, bahwa ia mencintai apa yang dicintai Allah Taala, dan begitu juga ia membenci apa yang Allah benci. Sesungguhnya cintalah yang menggerakkan kehendak hatinya dan setiap kali tuntutan hatinya itu menguat, setiap itu pula ia selalu melaksanakan apa yang dicintai Allah.

Takut harapannya hilang

Setiap orang yang mengharap adalah juga orang yang takut pada saat yang sama. Bahwa orang yang mengharap mendapatkan ridho dan ampunan-Nya, maka pada saat itu pula ia akan senantiasa merasa takut melakukan pekerjaan yang tidak disukai oleh Allah SWT.

Untuk membina rasa takut kepada Allah, ada tiga hal yang patut dicermati:

Pertama, mengetahui dosa-dosa dan keburukannya serta akibat dari perbuatan dosa tersebut.

Kedua, meyakini kebenaran akan ancaman Allah Taala, bahwa Allah telah menyediakan siksaan atas setiap dosa yang dilakukan manusia.

Ketiga, memahami bahwa boleh jadi ia tidak akan pernah bisa melakukan taubat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

Kuat dan lemahnya rasa takut kepada Allah SWT dalam diri seorang hamba, bergantung pada kuat atau lemahnya ketiga hal itu dalam dirinya. Dengan rasa takut akan memaksa seorang hamba untuk berlari kembali kepada Allah. Merasakan ketentraman di ribaan-Nya. Inilah sikap roja’ atau harapan seorang hamba yang luar biasa.

Berusaha untuk mencapainya

Untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan seorang hamba pada Allah SWT, tentulah dengan usaha yang sungguh-sungguh. Di samping dengan rasa cinta dan takut ia akan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan harapannya tersebut.

Ketiga hal tersebut di atas menjadi penting karena roja’ yang tidak dibarengi dengan tiga perkara di atas, maka itu hanyalah ilusi dan hayalan. Sebab orang yang berharap adalah juga orang yang takut, seperti orang yang ingin sampai di suatu tempat dengan tepat waktu, tentu ia takut untuk terlambat.