Kesuksesan melibatkan usaha: bila buah berguguran

Kehidupan Roni Haldi Alimi 20-Nov-2020
dreamstime_s_73876427
Kesuksesan melibatkan usaha: bila buah berguguran © - Dreamstime.com

Semua akan indah pada waktunya, jika apa yang kita niatkan adalah kebaikan. Ungkapan itu baiknya ada terpatri dalam hati dan diri kita agar goyangan angin yang membawa pancaroba kehidupan mampu dinikmati bukan dicaci maki.

Semilir angin kadangkala bisa menjadi obat pelipur lara dari tekanan beban hidup yang menghimpit asa kita. Karena badai angin yang biasa merusak memporak-poranda apa saja.

Kesuksesan melibatkan usaha

Lihatlah bagaimana Allah Yang Maha Kuasa memperlakukan Maryam; Bunda Nabi Isa Alaihi Salam. Tatkala usia kandungan yang dibawanya semakin mendekati masa kelahiran, tak hanya beban berat kandungan yang ditanggungnya.

Beban tekanan sosial lingkungan yang mencemoohnya terpinggir nista tak punya harga diri yang sebelumnya dipanggil wanita suci. Dua beban tekanan yang membelit merantai hati dan fisiknya sebagai seorang wanita. Sungguh beban yang berat lagi sulit dialaminya.

Allah Yang Maha Bijaksana melalui kisah Maryam ingin menegur kita. Kesuksesan itu mestilah melibatkan dua usaha; usaha langit dan usaha bumi. Ketika kepayahan dan keletihan semakin terasa mendera pada dirinya seakan waktu persalinannya akan segera tiba, Maryam yang seorang diri atas petunjuk Rabb-nya menggoyang-goyangkan  pohon kurma dengan kedua tangannya. Dengan goyangan yang sangat lemah sambil menahan sakitnya.

Ia sangat paham bahwa kurma itu tidak akan mungkin jatuh dengan goyangan tangannya yang berstatus seorang wanita yang sudah sampai hari persalinannnya. Akan tetapi ada sebuah keyakinan dalam hati dan dirinya yang bernama tawakkal, kesadaran akan “Al- Akhdzu bil Asbab” adanya upaya untuk berusaha untuk meraih hasil, bukan pasrah tanpa berbuat apa-apa.

Kisah itu diabadikan dalam Al-Quran surah Maryam, ayat 26:

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.”

Tamsilan hidup dari sebatang jeruk

Perhatikanlah sebatang jeruk, saat buahnya yang telah masak menguning lalu buahnya akan gugur sendiri dari tangkainya. Mengapa buah jeruk itu berguguran, padahal tidak ada tangan yang memetiknya? Buah akan jatuh berguguran lekang dari tangkainya bila telah tiba waktunya.

Lihatlah buah yang telah jatuh ke tanah, apakah masih mau diambil dimanfaatkan oleh manusia? Atau buah yang berguguran itu dibiarkan terbuang sia-sia? Atau malah dibiarkan tergeletak busuk dimakan ulat? Yang jelas, buah yang telah gugur dari pohonnya tak dapat lagi dikembalikan ke tangkainya seperti semula.

Begitulah tamsilan hidup manusia, sewaktu masih hidup, punya kuasa dan berkuasa, miliki wewenang dan berwenang, ada pengaruh dan berpengaruh, akan dipuja dielu-elukan bak pahlawan.

Namanya akan disebut dibesar-besarkan, kalimat singkatnya diulang-ulang diperpanjang, semua titah darinya dijadikan patokan dan pijakan. Namun bila tiba waktunya disangka atau tidak diketahui sebelumnya, tiba lah masa kuasa tak lagi berkuasa berdaya, wewenang tak lagi berwenang, pengaruh tak lagi berpengaruh.

Dulu dihomati dipuji sekarang dibelakangi dicaci, dulu perintahnya ampuh sekarang telah rapuh, dulu ketika disebut namanya disegani ditakuti sekarang tak dihirau lagi. Begitulah nasib manusia yang hidup berpakaian keangkuhan. Sama seperti buah yang gugur jatuh dari pokoknya, dibiarkan tergeletak tak dimanfaatkan.