Kesultanan Siak Sri Indrapura dan sejarah Indonesia

Dunia Bayu RI 15-Sep-2020
Taman-Istana
Kompleks Istana Siak Sri Indrapura di Siak, Riau, Sumatra © nativeindonesia.com

Dalam literatur sejarah Indonesia, Kesultanan Siak Sri Indrapura tidak begitu populer dibandingkan kerajaan atau kesultanan lainnya di Nusantara. Tidak banyak yang mengetahui tentang Kesultanan Siak Sri Indrapura yang ternyata memiliki jasa besar dalam mengusir penjajahan Belanda.

Kesultanan Siak sendiri memegang kekuasaan dalam waktu yang sangat lama. Dari data yang ada, kesultanan ini didirikan pada tahun 1723 Masehi (M) oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah Putera. Pada masa keemasannya kekuasaannya sangat luas, mencakup Pulau Sumatera, perairan Melaka, semenanjung Melayu, hingga ke Kalimantan.

Dari bukti-bukti sejarah yang ada, berdirinya kesultanan Siak berhubungan erat dengan peristiwa runtuhnya kekuatan Kesultanan Melaka pada tahun 1511 karena dikalahkan oleh Portugis. Sehingga ini menjadi pemicu bangkitnya Kesultanan Melayu lainnya di Nusantara. Seperti Johor, Pahang dan Patani. Dari semua kesultanan tersebut, Johor bisa membuat kerajaannya besar dengan raja pertamanya, Sultan Alauddin Riayatsyah II, yang merupakan anak dari raja Kesultanan Melaka yang terakhir.

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Siak Sri Indrapura mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka serta kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut. Kemajuan perekonomian Siak terlihat dari catatan Belanda yg menyebutkan pada tahun 1783, ada sekitar 171 kapal dagang dari Siak menuju Melaka. Siak menjadi kawasan segitiga perdagangan antara Belanda di Melaka dan Inggris di Pulau Pinang.

Dominasi Kesultanan Siak terhadap wilayah pesisir pantai timur Sumatera dan Semenanjung Melayu cukup signifikan, mereka mampu mengantikan pengaruh Johor sebelumnya atas penguasaan jalur perdagangan, selain itu Kesultanan Siak juga muncul sebagai pemegang kunci ke dataran tinggi Minangkabau, melalui tiga sungai utama yaitu Siak, Kampar, dan Kuantan yang sebelumnya telah menjadi kunci bagi kejayaan Melaka.

Kesultanan Siak Sri Indrapura mampu bertahan sampai 11 generasi. Berulangkali penjajahan Kolonial Belanda ingin menghancurkan Kesultanaan Siak Sri Indrapura, namun selalu berhasil mempertahankan diri dari berbagai serangan dan tipu muslihat. Kekuatan pasukan maritim dan bersatunya rakyat ketika itu justru menjadikan Belanda terusir dari wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Sejarah mencatat bahwa  Kesultanan Siak Sri Indrapura tetap berdiri kokoh sampai Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Raja terakhir Kesultanan Siak, Sultan Syarif Kasim II bahkan menyatakan bergabung dan meleburkan diri dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kecintaan Kesultanan Siak Sri Indrapura pada Indonesia ia buktikan juga dengan menyumbang uang sebesar 13 juta gulden atau  saat ini setara 1 triliun rupiah  dan mahkota raja yang diserahkan kepada Presiden Soekarno untuk mengisi kemerdekaan Indonesia dan keperluan pembangunan saat itu.

Berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura masih berdiri megah hingga saat ini, di antaranya Istana Siak yang mempesona, makam raja dan benda-benda pusaka seperti tombak, keris, piring raja dan lain-lain yang saat ini masih tersimpan rapi dalam komplek istana Siak Sri Indrapura.

Keindahan istana Siak Sri Indrapura tetap terjaga. Pemerintah Daerah telah menjadikan istana Siak sebagai salah satu ikon wisata yang wajib dikunjungi jika datang ke Provinsi Riau. Dengan perjalanan darat lebih kurang dua jam dari Pekanbaru atau menikmati indahnya suasana sungai siak jika menggunakan transportasi air, anda sudah bisa menapaktilasi peninggalan-peninggalan sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura.