Keteladanan adalah kunci dalam mendidik anak

Sudut anak-anak Bayu RI 14-Agu-2020
Keteladanan kunci mendidik anak © Faiz Zaki | Dreamstime.com

Pembahasan tentang anak dalam kehidupan adalah pembahasan yang tidak ada habisnya. Sejak mulai dari proses mencari calon ayah atau calon ibu dari anak-anak kita Islam sudah memberikan rambu-rambu, agar bisa memperoleh keturunan yang saleh dan saleha yang kelak memberikan bobot kepada bumi dengan penguatan kalimat Laailahaillallah dalam kehidupannya.

Anak adalah amanah Allah SWT yang kehadirannya sangat didambakan oleh pasangan yang sudah menikah. Dalam keadaan tertentu ketika Allah belum menakdirkan pasangan suami istri memiliki keturunan, maka berbagai ikhtiar akan terus dilakukan, dengan mendatangi dokter spesialis, bidan dan pengobatan alternatif yang memberikan solusi agar bisa memperoleh keturunan.

Namun, jamak pasangan suami istri yang sudah memperoleh amanah yang berharga itu justru mengabaikan tanggungjawab besarnya. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu bapanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Orang tua adalah pendidik atau madrasah pertama bagi anak-anak. Tanggungjawab yang ada dipundak orang tua dalam mendidik anak janganlah diabaikan begitu saja. Meminjam bahasa iklan, ‘Buat anak kok coba-coba.’ Harus ada ilmunya, sehingga anak-anak mendapatkan didikan dan asuhan yang seimbang.

Paling utama dalam kehidupan anak adalah mendidiknya dengan akidah yang bersih (salimul aqidah). Kedua, ibadah yang benar (shohihul ibadah) dan ketiga, akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Untuk mewujudkan anak-anak yang cemerlang, orang tua juga mesti mengetahui tahapan dan perkembangan dalam mendidik anak sesuai  jenjang usia mereka. Jeli dengan tahap perkembangan anak-anak akan mudah mengarahkan sang anak menuju masa depan dan sejalan dengan harapan orang tuanya.

Di usia emasnya, (0-7 tahun), bermain adalah cara yang paling berkesan untuk membangun  keseimbangan pertumbuhan anak. Meskipun bermain, orang tua harus berperan memberikan permainan yang baik dan mendidik agar anak bisa membangun konsep diri dari proses bermain tersebut.

Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a pernah berpesan: “Bermain-mainlah dengan anakmu sehingga dia mencapai tujuh tahun, kemudian didik mereka dengan disiplin selama tujuh tahun. Dan berkawan dengan mereka selama tujuh tahun, selepas itu anggaplah mereka sebagai seorang dewasa.”

Anak-anak pada usia emas sangat mudah meniru apa saja yang ada di sekitarnya. Mereka lebih banyak belajar dengan melihat apa yang terjadi disekelilingnya. Dan orang yang paling mungkin dan sangat sering diikuti oleh anak-anak adalah orang tuanya. Maka, Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar orang tua bersikap jujur kepada anak-anak mereka.

Abdullah Ibnu Amir r.a bercerita, bahwa suatu hari saat Nabi Muhammad SAW berada dirumahnya, ibunya memanggil, “Kemari, saya akan memberimu sesuatu.” “Apa yang akan kamu berikan?” Tanya Nabi Muhammad. “Saya akan memberinya beberapa kurma,” jawab Ummu Abdullah. Lalu Rasululllah bersabda, “Ingat, jika ternyata kamu tidak memberinya apa-apa, maka kamu akan tercatat sebagai pembohong.” (HR. Abu Dawud)

Anak-anak senantiasa memperhatikan perilaku orang tuanya. Jika orang tua jujur maka anakpun akan menirunya. Demikian juga dalam perilaku dan aktivitas yang lain. Persepsi yang keliru adalah menganggap anak-anak sebagai makhluk lucu dan kecil saja.

Pada hal mereka akan terus berproses dan belajar dari lingkungannya. Untuk itu, sebaik-baik didikan bagi anak-anak di sepanjang kehidupannya adalah dengan memberikan keteladanan yang kontinu hingga mereka mengetahui bahwa orangtuanya adalah teladan terbaik setelah Rasulullah SAW.